Sunday, December 30, 2007

Usap-Usap Sepatu

Oleh Suryaneta Masrul*

Menjaga wudhu termasuk hal sulit untuk dapat saya lakukan. Khawatir wudhu batal dan merasa lebih nyaman berwudhu setiap salat membuat saya kewalahan ketika berada di Taiwan, di mana Islam masih merupakan kata yang terdengar aneh di telinga. Tidak tersedianya tempat khusus untuk berwudhu memberikan saya kesempatan melaksanakan beberapa tuntunan fikih yang sebelumnya belum pernah saya kerjakan.

Salah satu contohnya adalah ketika mengikuti kelas bahasa Mandarin di Chinese Language Center (CLC) NCKU, yang disediakan gratis untuk mahasiswa internasional sekali seminggu selama 3 jam dari pukul 15.10-18.00 dengan istirahat 10 menit setiap jamnya. Salat ashar dan magrib terpaksa harus dikerjakan di CLC karena bila mengerjakan salat magrib di gedung Teknik Kimia tidak akan terkejar, selain waktu magrib yang singkat juga karena pukul 18.10 ada kuliah lagi di Teknik Kimia.

Berusaha untuk selalu menjaga wudhu dan tetap berwudhu ketika akan salat memberikan saya peluang untuk mengerjakan salah satu ruksah dalam fikih Islam, yaitu mengusap sepatu. Sebenarnya, mengambil wudhu di wastafel rest room biasa saya dan teman-teman muslimah lakukan di gedung Teknik Kimia. Basemen 1 yang jarang dilewati orang lalu lalang memudahkan kami untuk menutup pintu rest room dan melakukan aksi angkat kaki ke wastafel (Alhamdulillah, selama ini kami aman-aman saja melakukannya, karena seorang mahasiswi IMBA asal Indonesia pernah bercerita, bagaimana ia suatu ketika membasuh kaki di wastafel kala berwudhu, dan esok harinya terpampang sebuah pengumuman: "Dilarang Mencuci Kaki di Wastafel").

Sedangkan keadaan di CLC dengan waktu istirahat cuma 10 menit dan mobilitas orang di rest room yang cukup tinggi tidak memungkinkan saya untuk menutup pintu rest room ketika mengambil wudhu. Akhirnya setelah memikirkan cara terbaik, saya mengambil ruksah untuk mengusap sepatu ketika berwudhu. Alhasil dengan bersepatu dan menggunakan jaket sebagai alas salat saya pun menunaikan salat di ruang kelas yang kosong.

Ini menjadi salah satu bukti kalau Islam itu bukanlah agama yang mempersulit kita. Sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih- lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”

[~HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa’i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu~]*

*Suryaneta Masrul is a master student at Department of Chemical Engineering, NCKU, Taiwan. Some parts of this article have been edited by Ali Mutasowifin.

Monday, December 17, 2007

Surat 4 halaman

Biasanya, setiap kali aku menelepon Indonesia, anakku yang pertama, Hanan, akan perlu 10 menit sendiri untuk bercerita, dari kegiatan di sekolahnya, adik-adiknya, teman-temannya dan sebagainya. Betul-betul tanpa koma, apalagi titik. Sabtu lalu, dia bercerita kalau dia menulis empat halaman surat untukku. Memang, ia telah lancar menulis dan membaca. Setiap dua minggu sekali aku menulis kartu pos ke anak-anakku satu persatu. Tentu saja, dia lah tukang bacanya. Dan inilah surat yang dia buat untukku.

Wednesday, December 05, 2007

Wo de jiao da che hen gui

Kembali dari menikmati libur musim panas di Indonesia, aku mendapati sepedaku sudah tidak karuan kondisinya. Mungkin karena selama lebih dari dua bulan menahan derita diterpa panas matahari, diguyur hujan, dan diterjang angin topan. Ya, sudahlah... dengan gontai kubawa sepedaku ke reparasi sepeda di lingkungan dorm. Ini itu harus diganti, kata pemilik bengkel, dan NT $ 340 pun melayang. (Kucatat, si pemilik bengkel itu memang sukanya menyarankan untuk mengganti dengan yang baru setiap ada komponen sepeda yang rusak. "Change" atau "mei guan xi", itu dua kata yang sering ditawarkan sebagai option kepadaku, setiap kali aku melaporkan bagian sepedaku yang terasa tak beres).

Beberapa minggu kemudian, giliran ban sepeda kempes. Tukang tambal ban satu-satunya itu pun menerima rezeki NT $ 40 untuk menambal ban dengan cara yang jauh lebih ringkas dengan kebiasaan di tanah air. Pagi ini, sepeda kesayangan itu kembali harus kubawa ke bengkel yang sama. Ternyata, tempat pentilnya rusak, sehingga ban dalam seluruhnya harus diganti. NT $ 150 pun berpindah tangan. Kalau ditotal, nilai buku sepeda itu (sebelum depresiasi) sudah mencapai NT $ 2,428 (lihat juga http://alimu.blogspot.com/2007/05/sepeda.html ). Wah, niat ingsunnya membeli sepeda murah, ternyata jadinya mahal sekali. Hen gui! Hen gui!

Saturday, December 01, 2007

Waktu (Terkadang Terasa) Cepat Berlalu

Pagi ini, pukul 08.00 waktu Taiwan, kutelepon rumah. Istriku sudah berangkat kerja (katanya ada projek, sehingga Sabtu pun harus masuk kantor). Anak pertamaku juga sudah berangkat sekolah. Anak kedua pun telah bersiap berangkat. Hanya sebentar ngomong dengannya, sebelum kemudian dia berucap, "Sudah ya, Pak... Nanti saya terlambat". Tinggallah si bungsu yang berusia 10 bulan di rumah.

Ya, terkadang waktu terasa cepat berjalan. Rasanya, belum lama aku menimang-nimang anak pertamaku, Hanan. Rasanya belum lama pula aku membujuknya agar mau kembali bersekolah di sebuah Kelompok Bermain di Rawamangun, Jakarta, setelah berhari-hari mogok sekolah karena sempat menyadari pengasuhnya tak menungguinya di sekolah. Sekarang usianya telah hampir tujuh tahun, dan telah duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Hampir setiap sore ia bermain sepeda kesana-kemari bersama kawan-kawannya, serta sangat ngemong adik-adiknya.

Rasanya, pun belum lama aku mengajari anak keduaku, Maysa, belajar berjalan. Ah, ...sekarang (konon) kalau dia berlari, pengasuhnya pun kesulitan menangkapnya. Dia paling semangat bersekolah. Setiap pagi, setelah memperoleh konfirmasi bahwa hari itu dia bersekolah (jadwal sekolah dia hanya Selasa, Kamis, dan Sabtu), dia langsung mandi dan mengenakan pakaian seragamnya. Kalau sudah begitu, biasanya akan sulit disuruh sarapan. "Nanti seragam saya kotor... Kan saya malu kalau kotor...", begitu ia sering beralasan.

Anak ketigaku, Ayham, adalah satu-satunya anakku yang kala lahir tak ditunggui Bapaknya. Ya, ia lahir ketika aku sedang berada di Taiwan ( http://alimu.blogspot.com/2007/02/anggota-keluarga-baru.html ). Ia adalah orang yang "berjasa" membuat semua orang bangun lebih pagi daripada biasanya. Setiap sekitar pukul 04.00 pagi, ia sudah bangun, membuat kegaduhan dengan merangkak kesana kemari, melewati mereka yang masih terlelap tidur. Jadilah, ibunya dan kedua kakaknya pun menjadi terbangun karenanya. Tak lama kemudian, biasanya ia telah merengek minta makan, "mammamm... mammamm...." Mungkin karena banyak beraktivitas, meski makannya banyak, namun tubuhnya tak juga gemuk.

Benar, ...bila mengingat perkembangan anak-anak, waktu kadang terasa cepat berlalu.

Wednesday, November 28, 2007

Musim Sopan Telah Tiba

Saat ini Taiwan mulai memasuki musim dingin. Meski tiada bersalju, musim dingin di Taiwan terasa cukup menggigit. Tahun lalu di Tainan bahkan mencapai 10 derajat celcius. Di daerah Utara, biasanya bisa 2 hingga 5 derajat lebih rendah daripada di wilayah Selatan. Bagi mereka yang baru pertama kali meninggalkan tanah air, tentunya musim dingin ini akan dinantikan dengan harap-harap cemas: seberapa dinginkah nanti? Kuatkah tubuhku untuk mengatasinya? Apa yang harus kupersiapkan? Serta pertanyaan-pertanyaan semacam. Beberapa hari ini, kala suhu di Tainan bergerak antar 16-17 derajat celcius, beragam sign di yahoo messenger mahasiswa Indonesia didominasi perasaan kedinginan seperti "I am freezing..." atau "Dingiiiin..." atau ada yang menulis "Menerjang dinginnya Tainan".

Bagi mereka yang datang dari negara yang berdekatan dengan kutub Utara atau Selatan, musim dingin di Taiwan barangkali tak cukup istimewa. Seorang kawan dari Estonia, misalnya, datang ke kelas dengan baju yang tetap seksi, sementara teman sekelas lainnya hadir berbalutkan sweater dan jaket tebal. Katanya, winter di Taiwan seperti summer di negerinya, karena winter di Estonia bisa mencapai 30 derajat di bawah nol !!! Sedangkan seorang kawan dari Kazakhstan sering kulihat keluar kamar hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada, padahal pada saat yang sama aku keluar kamar dengan mengenakan sweater, celana panjang, dan kaos kaki.

Satu perubahan lain saat musim dingin adalah hampir semua orang mengenakan baju yang jauh lebih "sopan": berlengan panjang, celana panjang, berjaket tebal, bahkan tak sedikit yang juga berpenutup kepala. Sebuah perubahan yang mencolok dibandingkan dengan gaya berbusana musim panas yang amat seksi dan "seadanya". Berlainan dengan saat musim panas yang terasa "tampak aneh", maka saat musim dingin tiba busana para mahasiswi yang mengenakan jilbab menjadi "tampak sesuai". Menarik rasanya mendengar orang berkomentar tentang jilbab: "Sebuah rancangan pakaian musim dingin yang menawan." Sementara, kala melihat wanita berjilbab di musim panas, barangkali komentar yang muncul adalah, "Ah, mereka itu pasti orang yang tak faham mode"...

Tuesday, November 20, 2007

Anting dan Kehidupan Kedua

Setiap Sabtu pagi, selama tiga jam aku harus duduk di ruang kelas 62453, untuk mengikuti kuliah "Special Topics on Corporate Finance". Sebetulnya, tidaklah terlalu tepat bila disebut "mengikuti kuliah", karena kuliah tersebut disampaikan dalam bahasa Mandarin, sehingga bisa dipastikan aku tak memahaminya sama sekali. Jadilah, biasanya, aku membawa serta paper atau buku yang bisa kubaca selama kuliah berlangsung. Tapi, kalau sedang suntuk, ya paling hanya bengong saja.

Seperti Sabtu itu, kupandangi satu persatu teman-teman sekelasku. Dari sekitar 30-an orang mahasiswa di dalam kelas, tampaknya hanya aku yang berkulit (agak) gelap dan bermata (agak) lebar, he..he..he.. Tapi, tunggu dulu...ada fakta menarik yang lain. Dua pertiga yang hadir adalah perempuan, dan hanya satu yang menggunakan anting!!! Ah, tetapi...yang satu itu...temanku, orang Indonesia. Jadi, dengan demikian, seluruh mahasiswi Taiwan yang ada di ruangan kompak tak memakai anting. Mengapa ya?

Kala jeda kuliah, kutanyakan hal tersebut kepada seorang mahasiswi yang duduk di sebelahku. Dengan bahasa Inggris yang sesekali diselingi bahasa Mandarin --tentu saja temanku yang pakai anting itu yang kemudian menerjemahkannya-- ia menjelaskan alasan perempuan di Taiwan sebagian besar --bila tak bisa disebut seluruhnya-- tak menggunakan anting.

Katanya, di Taiwan ada kepercayaan bahwa bilamana perempuan tak menggunakan anting, maka di kehidupan kedua setelah mati kelak, ia akan bereinkarnasi menjadi lelaki. Sebaliknya, bila seorang perempuan menggunakan anting, dalam kehidupan keduanya nanti ia akan tetap menjadi perempuan. Lalu apa istimewanya menjadi lelaki dibandingkan menjadi perempuan? Ia beralasan, di Taiwan, posisi lelaki lebih tinggi dan lebih dihargai dibandingkan perempuan. Oleh karena itu, menjadi lelaki di kehidupan kedua lebih didamba dibandingkan (kembali) menjadi perempuan...

Wednesday, November 07, 2007

Oseng-Oseng Kangkung

Kala harus kembali di Taiwan setelah menikmati liburan musim panas di Indonesia selama sekitar dua setengah bulan, ada beragam perasaan yang bercampur aduk. Harus diakui, selama hampir satu tahun tinggal di Taiwan, negeri ini telah memberi pengalaman baru yang berbeda dengan tanah air. Kebersihan, kerja keras, disiplin, serta fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang jauh lebih baik dibandingkan Indonesia. Namun, meninggalkan keluarga di tanah air, jelas juga bukan hal yang ringan untuk ditempuh. Seringkali, muncul perasaan bersalah, karena jelas sekali mereka membutuhkan kehadiranku di sisi mereka. Apalagi, selama berada di rumah, aku berusaha mengoptimalkan kehadiranku, mencoba mengkompensasikan ketidakhadiranku selama sepuluh bulan, sehingga keberangkatanku kembali ke Taiwan pastilah akan sangat berat bagi mereka. Apalagi, dua anakku yang pertama, tentunya sekarang bisa lebih memperkirakan, seberapa lama Bapak mereka akan tinggal di Taiwan, sebelum pulang kembali saat libur musim panas.

Ketika tiba kembali di Taiwan, beragam kejadian tak menyenangkan kualami. Pertama, kala di Bandara Kaohsiung, petugas bea cukai menyita dua bungkus abon yang kubawa. Katanya, Indonesia sumber penyakit kuku dan mulut. Kedua, sesampai di dorm, ternyata kamar tidurku telah ditempati oleh seorang mahasiswa Taiwan. Memang, kantor urusan International Students NCKU telah beberapa kali menyuruhku pindah ke North Building. Tetapi, aku selalu menolak sambil mempertanyakan alasan pemindahan seluruh mahasiswa asing dari South Building. Mereka tak pernah bisa menyampaikan alasan yang kuat tentang hal itu, namun tanpa ba bi bu langsung menempatkan seorang mahasiswa Taiwan di kamarku. Akhirnya selama beberapa hari aku harus menumpang di kamar 209, tempat Mr. Feri dan Mr. Samsul tinggal.

Oleh NCKU, sebenarnya aku ditempatkan di kamar 301, bersama dua orang mahasiswa PhD asal Myanmar. Tetapi, agaknya mereka enggan menerimaku. Mereka kemudian menyampaikan ke NCKU bahwa Paul, tetangga kamar akan tinggal bersama mereka, dan aku akan menempati kamar Paul di 302. Itu sebenarnya hanya alasan mereka saja agar dapat menempati kamar yang seharusnya berkapasitas tiga orang hanya untuk mereka berdua saja, karena Paul, seperti kebanyakan mahasiswa dari Eropa dan Amerika Utara, biasanya ogah tinggal di dorm yang gerah. Setelah tiga hari ngungsi di kamar 209, akhirnya aku pun menempati kamar 302. Secara resmi, sesungguhnya aku tinggal bersama Abraham, mahasiswa PhD asal Kanada di Institute of International Management Program. Namun, ia tak pernah menempati kamar itu, dan hanya menitipkan barang-barangnya yang jumlahnya lumayan banyak. Ia bilang, kamarnya panas karena tanpa penyejuk udara. Lagipula, kupikir, tak mungkin ia tidur di tempat tidur yang disediakan yang berukuran hanya sekitar 175 cm, sementara tingginya sekitar 2 meter.

Berbeda dengan South Building, di North Building ini sering tercium bau sedap masakan. Meskipun secara resmi ada larangan memasak di dormitory, namun para mahasiswa internasional menganggapnya angin lalu. Selain bisa menghemat uang, mereka sering beralasan tidak cocok dengan masakan Taiwan. Jadilah, setiap menjelang saat makan siang atau makan malam, terutama di lantai 2 dan 3, tercumlah beragam aroma masakan India, Vietnam, Kamboja, Maroko, dan tentu saja, Indonesia.

Sejak di Indonesia, aku sendiri sesungguhnya tak biasa (dan tak bisa) memasak. Biasanya, hanya masak nasi menggunakan rice cooker. Atau, paling-paling, membantu istri menyiapkan bahan-bahan masakan. Tapi, kupikir-pikir, masa sih tak ada kemajuan? Kata orang, alah bisa karena terpaksa. Lalu, dengan bersepeda pergilah aku ke RT-Mart, membeli peralatan memasak, beberapa macam sayur dan bumbu masak. Sampai di kamar, kucoba lah memasak ikan sardin kaleng, ditambah beragam sayur dan bumbu. Hasilnya? Lumayan. Esok harinya, sayur kangkung yang berkuah bening. Hasilnya? Not too bad. Nah, sudah beberapa hari terakhir ini aku mencoba memasak salah satu makanan favoritku: oseng-oseng kangkung. Hasilnya? Hen hao chi !! Zhen de !!

Monday, October 15, 2007

Lebaran Kedua

Siapa bilang, Idul Fitri beragam hari hanya khas Indonesia? Tahun ini pun, Taiwan merayakan Idul Fitri pada dua hari yang berbeda. Taipei dan sekitarnya memperingati Idul Fitri pada Jumat, 12 Oktober 2007, sementara Taiwan wilayah Selatan, termasuk Tainan, merayakannya sehari kemudian.

Bila tahun lampau para mahasiswa pergi ke Masjid Tainan untuk sholat Idul Fitri, tahun ini kami memutuskan untuk mengunjungi Masjid Kaohsiung. Sekitar pukul 06.10 kami dengan berjalan kaki meninggalkan Sheng-li Dorm menuju Stasiun Kereta Api Tainan. Pak Bayu dan istri, Pak Mungki bersama istri dan anaknya pun bergabung dengan kami di Stasiun. Tak lama menunggu, kereta bertiket NT $ 59 pun datang untuk menemani perjalanan kami selama hampir 1 jam.

Setiba di Kaohsiung, kami berjumpa dengan para TKI yang juga hendak sembahyang Idul Fitri. Tak sabar menunggu bis tiba, sebagian kawan memutuskan untuk naik taksi. Kala bus datang, berebutan lah kami masuk ke bis bertarif NT $ 12. Sesampai di Masjid, ternyata kami tak lagi mendapat tempat di lantai utama, sehingga harus rela duduk di basement sembari melihat CCTV yang audionya, sayangnya, tak berkualitas bagus.

Seperti yakin seluruh jamaah yang berada di basement berasal dari Indonesia, seorang petugas berdiri memberi pengumuman dalam bahasa Indonesia. Dia mengingatkan bahwa, berbeda dengan kebiasaan di Indonesia, pelaksanaan sholat di Taiwan diawali dengan takbir tiga kali di rakaat pertama, sedangkan di rokaat kedua usai imam membaca Al Fatihah dan surat, akan diikuti dengan takbir tiga kali sebelum ruku'.

Usai sholat, para jamaah di basement, tanpa menanti khatib menyelesaikan khutbah, bergegas meninggalkan tempat. Tanpa menunggu lama, kami pun menyerbu tenda yang disediakan oleh IWAMIT, organisasi pengajian TKI di Kaohsiung, untuk menikmati hidangan khas Indonesia, berupa nasi, cap cay, timun bumbu kuning, daging, dan ayam goreng. Taqobbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin.

Wednesday, October 03, 2007

Harga Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa uang di kantongnya hanya tersisa beberapa sen, padahal dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, dan hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar. Oleh karena itu ia kemudian membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, berapa dia harus membayar untuk segelas besar susu itu. Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan," kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : "Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."

Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, di mana terdapat seorang dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu.

Mulai hari itu, ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !! Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut. Ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut, walaupun harus mengangsur seumur hidupnya. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut. Sebuah catatan kecil di pojok atas lembar tagihan tersebut segera menarik perhatiannya. Ia membaca tulisan yang berbunyi...."Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu !!" tertanda, Dr. Howard Kelly. Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa: "Terimakasih, ya Allah, cinta-Mu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."

Saturday, June 23, 2007

(Lazy) Dogs are Everywhere


Di Indonesia, amat jarang kita melihat anjing berkeliaran. Biasanya, mereka hanya berada di dalam rumah, menjalankan tugas sebagai anjing penjaga rumah. Di Taiwan, di mana-mana kita menjumpai anjing berkeliaran. Orang-orang juga tampak sangat menyayangi anjing. Adalah pemandangan yang jamak bila orang Taiwan berjalan-jalan ditemani anjingnya. Anjing-anjing itu juga sering didandani dengan beragam rupa dan gaya serta diajak kesana kemari naik scooter.

Satu hal lagi yang berlainan antara anjing di Taiwan dan di Indonesia adalah, bila anjing di Indonesia gemar menyalak, anjing di Taiwan lebih cuek. Mereka seolah tidak peduli orang lalu lalang di sekitarnya. Kata seorang teman dari Afrika, seperti juga orang Taiwan, anjing di Taiwan tampaknya juga suka mabuk dan karenanya sering fly.....


Wednesday, June 20, 2007

Dragon Boat Festival

Selasa minggu ini, adalah hari libur nasional Dragon Boat Festival di Taiwan (sementara hari Senin adalah harpitnas, di mana banyak instansi meliburkan aktivitasnya). Perayaan ini memperingati seorang penyair masa dulu bernama Qu Yuan (340 SM-278 SM). Ia bunuh diri dengan nyemplung ke sungai karena muak dengan pemerintahan Chu yang korup. Penduduk sekitar yang tahu kalau dia adalah orang yang baik, memutuskan untuk melemparkan makanan ke dalam sungai untuk memberi makan ikan dan mencegahnya memakan tubuh Qu Yuan. Makanan ini dikenal sebagai zongzi, yakni beras ketan, diisi beragam sayuran, kacang, dan daging, dengan dibungkus daun.


Mereka juga duduk di perahu panjang namun sempit, yang disebut perahu naga (dragon boat), dan berusaha menghalau ikan dengan menabuh genderang serta membentuk haluan perahu menyerupai kepala naga.

Legenda lain menyebutkan bahwa setelah Qu Yuan bunuh diri, karena masyarakat sangat mencintainya, orang-orang pun berperahu menyusuri sungai untuk mencari jasadnya.


Di Tainan, setiap tahun perayaan Dragon Boat Festival dimeriahkan dengan lomba dayung perahu, yang bahkan diikuti oleh tim-tim yang datang dari luar negeri. NCKU mengirimkan dua tim, yakni Tim IMBA dan Tim Chinese Language Centre. Sepanjang sungai pun penuh dengan para pedagang yang menjual aneka rupa penganan dan barang kerajinan. Tetapi, jangan tanya harganya....Selangit !!!!

Wednesday, June 13, 2007

Wayang Potehi

Meski menyandang predikat Newly Industrialised Country, Taiwan tidaklah melupakan upaya melestarikan tradisi. Berikut adalah pertunjukan wayang potehi yang digelar dari sebuah mobil yang diparkir di pinggir jalan.


Monday, June 11, 2007

豬 (Ask Me the Taste of Pork)

Siang itu, selesai kuliah, bersama seorang kawan mahasiswa Ph.D asal Indonesia yang fasih berbahasa mandarin, aku menyusuri gang depan kampus yang penuh dengan deretan warung-warung makan aneka rupa. Pilihan kami pun jatuh kepada sebuah rumah makan dengan interior lega, iringan musik indah, yang belum lama beroperasi.

Temanku memilih menu daging babi, sementara aku memesan ikan, keduanya biasanya disajikan di atas piring panas. Sebelum masakan siap, seorang pelayan datang membawakan sup sebagai appetiser. Karena sudah lapar, kami berdua segera menyantapnya. Tiba-tiba, setelah sekitar tiga atau empat suapan, temanku itu tampak terkejut, lalu segera memanggil sang pelayan.


Dengan bahasa mandarin yang lancar, ia bertanya apakah daging yang ada dalam sup adalah daging babi. Ketika sang pelayan membenarkan, berulang-ulang temanku ini meminta maaf kepadaku. Tinggallah sang pelayan yang terbengong-bengong, tak faham apa yang terjadi. Setelah temanku menjelaskan padanya bahwa sebagai seorang muslim aku tak diperbolehkan memakan babi, tak pelak ia pun berulang kali membungkukkan badan sambil berucap "dui bu qi, dui bu qi...."

Setelah kejadian itu, aku mulai berhati-hati kalau memesan makanan. Pada setiap warung makan yang baru pertama kali kukunjungi, biasanya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu, "Wo shi hui jiao tu, wo bu ke yi chi zhu rou" (saya muslim, saya tidak makan babi). Sebagian besar warung langganan telah hafal dengan hal ini, sehingga mereka akan selalu memberitahu masakan yang tersedia yang mengandung babi.

Akan tetapi, hal ini tidaklah menjamin makanan yang masuk ke perut kita sama sekali tidak mengandung babi. Pada suatu petang, seusai kuliah, bersama teman yang sama dengan pengalaman pertama di atas, aku masuk ke sebuah warung makan hot pot. Dengan mantap, kupesan seporsi dengan isi seafood, dengan keyakinan akan bebas dari unsur babi. Namun, temanku ini kemudian menginterogasi pelayan warung makan, menanyakan kuah/kaldu yang akan dipakai, yang kemudian diketahui adalah kaldu kaki babi. Wuih, untung deh.....

Namun, tak setiap orang "seberuntung" aku. Seorang kawan asal Indonesia di Program Ph.D yang sama denganku menuturkan sebuah pengalamannya. Suatu hari, karena sibuk ia meminta seorang temannya yang fasih berbahasa mandarin untuk membelikan mie favoritnya di sebuah warung langganannya selama setahun terakhir. Tak berapa lama, sang teman menghubunginya untuk mengabarkan pertanyaan keheranan dari pedagang mie langganannya, "Temanmu dari Indonesia itu aneh sekali. Masak dia menolak daging babi, tapi tidak masalah dengan kaldu babi....". Ternyata, dalam persepsi sang pedagang, yang tidak boleh hanyalah daging babi, sedangkan sup/kaldu babi diperbolehkan, sehingga meski temanku ini setiap kali memesan telah memberitahu untuk tidak menggunakan daging babi, tetap saja ia memberi "bonus" kaldu babi. Bayangkan, itu telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.....

Memang, sungguh tidak mudah menemukan makanan di Taiwan yang tidak mengandung unsur babi. Mereka menggunakan babi, barangkali pada hampir seluruh masakan. Kata kawan-kawan Taiwan, daging babi, kaldu babi, minyak babi, membuat masakan menjadi lebih sedap dan tahan lama. Zhen de ma?

Saturday, June 09, 2007

Graduation (or Photo Session?)

Hari ini, banyak mahasiswa mengenakan toga, membawa bunga, dan tertawa senantiasa, di seluruh penjuru kampus NCKU. Dengan didampingi orang tua, saudara, kekasih, atau keluarga lainnya, mereka sibuk berfoto sana, berfoto sini. Ya, hari ini adalah hari wisuda.

Namun, tunggu dulu. Tidak berarti mereka yang sibuk berfoto ria telah lulus. Berbeda dengan tradisi di Indonesia di mana hanya mereka yang telah lulus yang diwisuda, di NCKU (dan hampir semua perguruan tinggi di Taiwan) wisuda dilaksanakan serentak untuk angkatan yang memang seharusnya telah lulus. Ini berarti, seluruh mahasiswa angkatan tersebut, baik yang secara resmi telah lulus maupun yang belum lulus akan mengikuti wisuda, photo session, dan makan bersama-sama.

Setelah upacara wisuda usai, pada hari berikutnya mereka akan harus kembali menghadapi rutinitas: kuliah, mengerjakan tugas, presentasi, serta ujian. Bahkan, seorang mahasiswa College of Liberal Arts asal Vietnam mengaku akan masih harus kuliah sekitar satu tahun lagi untuk bisa lulus. Karenanya, amat mungkin kala saat wisuda penuh dengan canda tawa dan air mata bahagia, kala berikutnya keluar air mata derita tak lulus ujian, misalnya. Lucunya, malam harinya, banyak mahasiswa yang menyelenggarakan pesta merayakan wisuda (apa yang dirayakan?) Kata orang, "Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."

Friday, June 08, 2007

7 Komponen Sederhana untuk Bahagia

1. Tidak seorang pun dapat
kembali ke awal dan
membuat permulaan yang baru,
tetapi setiap orang dapat
memulai dari sekarang dan
membuat akhir yang baru.

2. Tuhan tidak menjanjikan
hari hari tanpa sakit,
tawa tanpa kesedihan,
matahari tanpa hujan,
tetapi Ia menjanjikan
kekuatan untuk hari itu,
penghiburan atas air mata
dan cahaya dalam perjalanan.

3. Kekecewaan adalah seperti
lubang di jalan, yang sedikit
memperlambat mu, tetapi
kemudian engkau menikmati
jalan yang mulus. Jangan tinggal
di lubang terlalu lama.
Maju terus!

4. Jika engkau kecewa karena
tidak mendapatkan apa
yang kauinginkan, duduklah tegak
dan berbahagialah,
karena Tuhan sudah memikirkan
sesuatu yang lebih baik
untuk diberikan padamu.

5. Jika sesuatu terjadi padamu,
baik ataupun buruk,
pertimbangkan apa artinya.
Ada tujuan pada setiap kejadian
dalam hidup, untuk mengajarkanmu
bagaimana lebih banyak tertawa atau
tidak menangis tersedu sedu.

6. Engkau tidak bisa membuat
seseorang mencintaimu,
yang dapat kau lakukan adalah
menjadi seseorang yang dapat dicintai,
selebihnya terserah pada orang itu
untuk menyadari nilaimu.

7. Jangan mengabaikan teman lama.
Engkau tidak akan menemukan
orang yang dapat menggantikannya.
Persahabatan itu seperti anggur,
semakin tua semakin baik.

Wednesday, June 06, 2007

7-Eleven (Again!)

Pagi itu, seperti biasa, aku pergi ke 7-Eleven, jaringan minimarket terbesar di Taiwan, yang ada di lingkungan Sheng-Li Dorm, untuk membeli roti untuk sarapan pagi. Setelah membayar, sesaat sebelum keluar pintu, kulihat ada pengumuman pemenang resi pembayaran berhadiah. Kuambil sebuah.

Setiap dua bulan sekali, seluruh resi pembayaran pembelian barang di toko mana pun (tidak hanya di 7-Eleven), akan diundi secara nasional. Pemenang pertama, dengan delapan angka resi pembayarannya persis sama dengan pengumuman, memperoleh NT $ 2,000,000, sementara tiga pemenang berikutnya yang memiliki resi dengan delapan angka sama memperoleh hadiah NT $ 200,000. Sementara, para pelanggan yang memiliki tiga angka belakang sama dengan pemenang pemenang kelompok kedua, masing-masing akan memperoleh NT $ 200.

Nah, setelah sampai di kamar dorm, kuperiksa satu persatu resi pembayaran yang memang sengaja kusimpan. Ternyata, ada satu yang memiliki kesamaan tiga angka terakhir dengan pemenang kelompok kedua. Alhamdulillah. Tapi, berlainan dengan ketika menang pertama kali dulu, kali ini aku tidak membelanjakan seluruh uangnya di 7-Eleven, namun kumintakan tunai di kantor pos. Lumayan, bisa untuk makan empat kali......

Tuesday, June 05, 2007

9 Bulan (Sudah)

Hari ini, sembilan bulan lampau, aku menginjakkan kaki di Taiwan. Insya Allah, tiga minggu lagi aku pulang ke Indonesia untuk menikmati libur musim panas. Tidak sabar rasanya menanti saat itu tiba....

Monday, June 04, 2007

Siasat Perpanjang Visa

Hensi, Budi, dan Mungki adalah tiga mahasiswa IMBA tahun kedua asal Indonesia. Hensi akan segera menyelesaikan studinya, dan berencana melanjutkan ke program S3 juga di NCKU. Berbeda dengan Hensi, Budi dan Mungki dengan sukarela berencana memperlambat penyelesaian studinya. Sukarela? Ya, benar. Itulah cara mereka berdua untuk memperpanjang izin tinggal yang akan segera habis beberapa bulan ke depan.


Dua minggu lampau, istri Budi yang adalah mahasiswa S2 di Asia University, Taichung, melahirkan putri pertamanya. Sedangkan istri Mungki yang adalah mahasiswa S2 di NCKU, Tainan, akan melahirkan putri pertamanya bulan depan. Menurut peraturan keimigrasian, bila studinya telah rampung, berarti mereka berdua harus segera meninggalkan Taiwan. Padahal, istri dan anak mereka akan masih harus tinggal di Taiwan, setidaknya hingga satu tahun kemudian. Itulah dilema yang mereka hadapi.

Akhirnya, mereka memilih untuk tidak segera menyelesaikan tesis, meskipun itu berarti mereka berdua akan tidak lagi memperoleh living allowance bulanan, hak untuk tinggal di dorm, serta harus membayar sendiri tuition fee, yang konon mencapai NT $ 8,000/SKS untuk program IMBA. Tampaknya, itu semua tidak cukup besar dibandingkan dengan kesempatan untuk tetap bersama istri dan anaknya. Jia you!!!

Friday, June 01, 2007

Renungan Indah

By W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya : mengapa Dia
menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan
untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan
milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk
melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan
hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak
mobil, lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua
"derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti
matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh
dariku, dan nikmat dunia
kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan
kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak
keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku
hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan
keberuntungan sama saja".....

Monday, May 28, 2007

Summer is Coming

Taiwan saat ini mulai memasuki musim panas. Gerahnya minta ampun. Temperatur di Tainan sering berada di atas 30 C. Bahkan di beberapa kota lain, suhu mencapai 37 C. Heater sudah lama masuk kotak. Sekarang, kipas angin yang tak pernah berputar selama musim dingin mulai menjalankan tugasnya di kamar-kamar dorm. Jendela pun dibuka lebar-lebar, bahkan di malam hari.

Tinggal di kamar dorm menjadi tidak nyaman sama sekali. Sebagai gantinya, computer room dan perpustakaan pun menjadi pilihan para mahasiswa. Bila sebelumnya relatif mudah mencari meja kosong di perpustakaan, saat ini menjadi sedikit perlu perjuangan. Tidak sedikit mahasiswa yang numpang tidur di perpustakaan. Apalagi, desain interior perpustakaan yang nyaman bak hotel berbintang lima, semakin memperindah mimpi.

Pakaian pun berganti ragam. Bila di musim dingin para mahasiswa tampil sopan dengan jaket tebal, celana panjang, slayer, bahkan tutup kepala, di musim panas pakaian mereka berganti corak. Pakaian favorit yang acap ditemui adalah kaos singlet (betul-betul singlet saja) dan celana pendek. Jangan kaget, model serupa tidak hanya dikenakan para mahasiswa, namun juga dikenakan para guru bahasa di language centre.

Selain kipas angin, yang juga keluar dari kotak adalah payung. Pertama, tentu saja adalah untuk menahan sinar mentari yang menyengat. Kedua, meski musim panas, sesekali turun hujan lebat, dan payung pun menjadi teman yang mencegah dari kuyup.

Monday, May 21, 2007

Bertemu Presiden

Hari ini, sembilan tahun lampau, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah selama sekitar 32 tahun berkuasa di Indonesia. Tidak pelak, ada perasaan bangga yang membuncah, kala saya sebagai mahasiswa S1 dulu berkesempatan bertemu dengan "raja" negeri ini, yang dikenal sebagai "The Smiling General". Sebagai pegiat organisasi kemahasiswaan, kesempatan bertemu dengan Presiden Indonesia terlama ini pun sempat kualami beberapa kali, namun perasaan bangga itu masih juga hinggap setiap kali bertemu.

Beberapa hari setelah ikut "menduduki" gedung DPR yang berujung kejatuhan Presiden Soeharto, saya mengikuti petuah untuk "menemani raja yang jatuh". Bersama beberapa kawan mahasiswa Pascasarjana UI, kami bersilaturahim dengan Pak Harto di jalan Cendana, saat banyak mahasiswa di ujung jalan masih bersitegang dengan polisi, menuntut penggantungan Pak Harto. Bahkan, kala itu pun, masih ada juga perasaan bangga bersemayam di dada ini.



Namun, perasaan bangga yang serupa tak muncul kala kemarin kami berjumpa dengan seorang presiden yang lain, Presiden Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan). Ketika kami, mahasiswa muslim NCKU dikunjungi oleh Cak Hendro Nurhadi beserta anggota kabinet, Cak Agus Setyo Muntohar dan Cak Budi Suswanto, yang muncul adalah perasaan bahagia. Guyonan segar dan cerdas yang mewarnai perbincangan kami selama di Shengli Dorm No.6 maupun di Masjid Tainan, meski hanya seorang TKI yang berhasrat hadir di tengah hujan deras yang mengguyur, menunjukkan mereka bertiga sebagai pemimpin harapan.


Dalam konteks nasional, saya membayangkan, kita memiliki pemimpin-pemimpin seperti mereka, yang tak hanya nongkrong di Istana, namun rajin datang mengunjungi rakyatnya. Saya membayangkan, kita memiliki pemimpin seperti Umar bin Khatab, yang rajin melihat kondisi nyata rakyatnya dengan kunjungan tanpa nama, tanpa upacara. Saya membayangkan, kita memiliki pemimpin yang akan mampu membuat rakyat yang ditemuinya tidak memiliki kebanggan yang sifatnya lebih personal, namun memiliki kebahagiaan yang sifatnya lebih sosial, yang akan mampu mendorong perasaan bermakna, berharga, dan bertenaga untuk berbuat bagi sesama. Xie xie ni, Hendro Xiansheng, Agus Xiansheng, Budi Xiansheng.

Thursday, May 17, 2007

Sepeda

Sepeda adalah alat transportasi penting bagi mahasiswa. Bahkan Rektor Kao (sekarang telah menjadi mantan rektor) pun selalu menggunakan sepeda dalam aktivitas kesehariannya. Hal yang tampaknya akan sulit diharapkan di tanah air. Oleh karena itu, kira-kira seminggu setelah sampai di Tainan, aku pergi membeli sebuah sepeda baru di Carrefour. Ditemani Pak Feri dan Samsul (yang harus terengah-engah karena kuboncengi), kami bersepeda menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit.

Aku memilih membeli sepeda MTB bermerek Aloha, seharga NTD 1,388. Setelah memberi beberapa kebutuhan lainnya, kami bertiga pun kemudian kembali ke dorm. Sepeda itu pun kemudian menemaniku kemana pun aku pergi. Ke kampus, perpustakaan dan lingkungan kampus lainnya menjadi lebih mudah dan nyaman. Apalagi, mobilitas "terpaksa" menjadi tinggi karena untuk sholat aku sering harus kembali ke dorm atau ke research room di gedung IMBA.


Selain itu, hampir setiap Jumat sepeda itu pun menjadi sarana transportasi ke masjid yang berjarak sekitar 20-30 menit perjalanan dengan sepeda. Atau, bila sedang rindu dengan masakan Indonesia, rata-rata sebulan sekali sepeda itu pun menemaniku ke "warung indo" yang menyediakan masakan Indonesia di daerah sekitar Taman Tainan, yang meski jaraknya tidak sejauh ke masjid, namun kondisi jalannya lebih membutuhkan tenaga untuk mengayuh.


Namun, sekitar sebulan lampau, kala pulang dari "warung indo", dalam perjalanan menuju dorm, tiba-tiba ban sepedaku meletus. Terpaksa, sepeda pun harus dituntun. Karena saat itu hari Sabtu sore, bengkel sepeda telah tutup. Minggu pun dia libur. Senin, dengan ditemani Samsul sebagai penerjemah, kubawa sang sepeda ke bengkel di dalam kompleks dorm. Setelah dilihat tingkat kerusakannya, bang bengkelnya mengatakan tak bisa ditambal lagi karena terlalu parah. Terpaksalah harus beli baru, baik ban luar maupun ban dalam. Setelah melalui negosiasi, akhirnya diputuskan harganya NTD 400. Mungkin karena monopoli (aku tak pernah melihat ada bengkel sepeda lain di sekitar dorm), bengkel ini sering kurasa seenaknya menentukan harga onderdil maupun pelayanannya.


Tiga hari yang lalu, giliran tuas "ganti persneling" sepedaku yang patah. Karena tuas itu adalah salah satu peralatan yang kurasa penting, kubawa kembali sang sepeda ke bengkel yang dulu. Kali ini ia mematok harga NTD 120 untuk sebuah tuas baru plus kabelnya. "Tai gui!", protesku mencoba mempraktekkan bahasa mandarin, sambil mencoba menawarnya NTD 100. Ia tegas menggeleng sambil berulangkali berucap, "No, no, no!" Akhirnya tercapai kesepakatan di harga NTD 110. Setelah delapan bulan, akhirnya cost sepedaku telah menjadi NTD 1,898. Wah, nggak murah lagi, deh......

Friday, May 11, 2007

Mother's Day

Tidak seperti di Indonesia, Taiwan merayakan Mother's Day pada hari Ahad minggu kedua bulan Mei. Beragam kegiatan diselenggarakan, tidak terkecuali di Seng-Li Dorm 6, tempat sebagian besar mahasiswa Internasional bermukim. Kartu pos edisi khusus Mother's Day dicetak, didistribusikan, dan gratis dikirimkan ke seluruh penjuru dunia. Tentu saja, aku tak melewatkan kesempatan ini. Karena ibuku telah menghadap Yang Mahakuasa, kukirim sebuah kartu pos untuk ibu anak-anakku. Berbondong-bondong mahasiswa, terutama mahasiswa asing, memanfaatkan kesempatan ini.

Kegiatan kedua adalah menelepon gratis selama tiga menit ke seluruh penjuru dunia. Dengan semangat, segera aku mendaftar dan mulai menelepon istriku. Mumpung gratis. Setelah sekitar dua menit berlalu, tiba-tiba mahasiswa Taiwan yang menjadi petugas tersadar kalau pengatur waktu 3 menitnya belum distel. Jadilah, jatah yang harusnya hanya 3 menit molor menjadi sekitar 5 menit. Dan, yang tidak mengagetkan, hampir seluruh mahasiswa Indonesia yang tinggal di Dorm tumplek blek di lokasi Mother's Day. Kalau soal gratisan, kita memang tak mau ketinggalan.....

Tuesday, May 08, 2007

Melahirkan di Negeri Orang

Tadi malam, pasangan Pak Badri dan Bu Dita memperoleh momongan, seorang bayi lelaki yang lahir di NCKU Hospital, setelah masuk rumah sakit sejak sehari sebelumnya. Karena kali ini adalah kelahiran pertama, tak dapat disembunyikan perasaan cemas dan bingung kedua mahasiswa NCKU ini. Apalagi, selain harus melahirkan di negeri orang, mereka juga tidak didampingi orang tua yang biasanya akan sangat membantu pada saat-saat seperti itu. Jadilah, "para senior", yang telah berkeluarga dan berputra menjadi sasaran pertanyaan ini itu tentang proses melahirkan. Tentu saja, tak terkecuali aku, yang memiliki jumlah anak paling banyak di Tainan ini, he..he..he...


Melahirkan anak di kala masih mahasiswa sebenarnya tidaklah luar biasa. Namun, menjadi cukup istimewa manakala melahirkannya di negeri seperti Taiwan, manakala bahasa masih sering menjadi kendala yang berarti, dan jauh dari sanak keluarga. "Keluarga" yang ada, hanyalah teman-teman sesama mahasiswa. Nama Cina pun mesti disiapkan, selain nama khas Indonesia.

Pasangan ini akan segera diikuti dua pasangan lain yang akan melahirkan anak mereka dalam kurun waktu yang dekat. Pertama, pasangan Budhi Handoyo, mahasiswa IMBA NCKU-Aisyah Nur Jamil, mahasiswa S2 Asia University, yang menurut perkiraan akan melahirkan minggu depan. Kedua, pasangan Mungki Rahadian-Anna Kurniawati, keduanya mahasiswa IMBA NCKU, yang akan memperoleh momongan Juli mendatang. Tampaknya, mahasiswa Indonesia akan segera terkenal sebagai mahasiswa yang "produktif".......

Monday, April 30, 2007

New Roommate

Dua minggu terakhir ini ada seorang lelaki gempal bolak-balik membawa beragam barang masuk ke kamarku. Ya, aku akan mendapatkan seorang teman sekamar baru. Ia orang Taiwan yang nama cinanya aku tak hapal, namun kuingat ia minta dipanggil Mark. Ia mahasiswa tahun pertama program master di Department of Economics, College of Social Sciences, dengan penguasaan bahasa Inggris yang lumayan. Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang menempatkan Departemen Ilmu Ekonomi di Fakultas Ekonomi, di NCKU dan kebanyakan universitas lain di Taiwan, departemen ini menjadi bagian dari Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial.

Secara resmi, sebenarnya aku tak tinggal sendirian. Ada Pak Bayu yang juga tercatat sebagai penghuni kamar 221, meski selama ini ia lebih memilih tinggal di apartemen di luar kampus bersama istrinya. Hal ini yang juga mengherankanku, mengapa manajer dorm "memilih" mengirim Mark ke kamarku, padahal empat kamar di sekelilingku juga hanya berpenghuni seorang. Bahkan, kamar di sebelahku kosong tak berpenghuni. Kesannya, sang manajer tak rela membiarkanku leluasa menikmati kamar sendirian.

Tapi, aku merasa tak memiliki hak untuk menolaknya. Apalagi, tampaknya anaknya baik dan ramah. Begitu datang ia sudah menyuapku dengan sekaleng chocolate stick (mirip astor, namun katanya yang ini buatan tangan). Lagipula, siapa tahu ia jalan yang dipilihkan bagiku untuk mempercepat penguasaan bahasa Mandarin, agar tak cuma bisa berujar "Ni hao" dan "Xie xie".........

Monday, April 09, 2007

Misteri Kamar 1008

Hari ini aku, bersama Pak Badri, menghadap Prof. C.H.Huang, Director of Student Affairs Division, untuk menyampaikan surat pengunduran diri Bu Netti. Ya, Netti Tinaprilla, teman seperjuangan dari Bogor memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di NCKU. Keputusan ini sebenarnya tidaklah mengejutkan bagiku, karena sebelum balik ke Indonesia ia sempat berbincang beberapa kali denganku tentang kemungkinan itu.


Bagi mahasiswa Indonesia, pengunduran diri Bu Netti ini merupakan sebuah kehilangan besar. Ialah orang yang selalu menjadi komandan dapur dalam berbagai kegiatan. Tidak jarang pula ia datang ke Kamar 209 untuk memasak apa saja, sehingga dapat sedikit mengobati kerinduan kami akan masakan tanah air. Banyak pula kawan yang memuji daya tahan dan daya juangnya yang luar biasa dalam menghadapi beban berat tugas-tugas perkuliahan semester lampau. Namun, itu semua kini tinggal kenangan. Dua buah kardus besar berisi buku dan pakaian yang tertinggal telah nongkrong di Kamar 209, siap untuk dikirim balik ke tanah air.



Namun, sesungguhnya Bu Netti tidak sendirian. Pada saat yang hampir bersamaan, Weimi Chow, teman sekamar Bu Netti di Kamar 1008 yang berasal dari Belgia, juga memutuskan meninggalkan NCKU dan memilih untuk melanjutkan studinya di Mainland China. Kepergian Weimi juga menyisakan kesedihan bagai kami, karena sebelumnya ia adalah guru bahasa Mandarin kami di Departemen. Keputusan mereka berdua untuk meninggalkan Taiwan memunculkan pertanyaan di antara kami. Ada apa dengan Kamar 1008? Mengapa mereka yang pernah tinggal di sana selalu pergi dan tidak pernah kembali?

Saturday, March 31, 2007

Ke Klinik Gigi


Minggu depan adalah liburan spring break. Resminya, Senin hingga Rabu adalah libur Inter-University Activity Week, Kamis libur National Tomb-Sweeping Day, sedangkan Jumat merupakan libur Sport Day yang ditangguhkan. Lumayan, bisa sedikit mengurangi tekanan tugas yang bejibun di semester ini.

Liburan juga kumanfaatkan untuk mengunjungi dokter gigi. Ada satu gigi yang tampaknya harus dicabut. Sebenarnya, fasilitas klinik gigi di IPB memungkinkanku untuk memperoleh pelayanan gratis. Namun, aku ingin merasakan pelayanan kesehatan di Taiwan. Hitung-hitung memanfaatkan asuransi (National Health Insurance) yang premi per bulannya saja lebih dari NT $ 600.

Maka, pagi ini aku mengunjungi Pei Yi Dental Clinic yang terletak sekitar 10 menit berjalan kaki dari dorm. Setelah mengisi form pasien baru, tak lama kemudian seorang perawat, dengan bahasa Inggris yang lancar, datang mengantarku ke lantai dua. Aku kemudian masuk ke sebuah ruangan untuk foto x-ray. Dengan peralatan yang canggih, sekejab kemudian sebuah foto telah terpampang di layar monitor. Sungguh efisien, tanpa perlu harus mencetaknya.

Perawat yang sama kemudian mengantarku ke sebuah kursi pemeriksaan yang dilengkapi dengan layar monitor kecil yang kemudian menayangkan hasil foto x-ray gigiku. Setelah menunggu sekitar 10 menit, seorang dokter gigi muda mendatangiku sambil menyapa, "Ni hao." Dengan ramah ia kemudian memberiku sebuah cermin untuk memungkinkanku mengkonfirmasi gigi yang hendak dicabut.

Dibantu perawat yang sama, sang dokter kemudian sibuk mencabut sang gigi. Aku tak merasa sakit sedikit pun. Tak lama kemudian ia memasangkan kain kasa di bekas gigi sambil memintaku menggigitnya selama sejam. Aku sungguh tak menyangka secepat dan sesederhana itu. Resepsionis kemudian menyebutkan kalau aku harus membayar NT $ 100, sambil memberiku Acetaminophen 500 mg dan satu set disposable dental instrument yang harus dibawa bila hendak berkunjung kembali. Sebuah pengalaman pelayanan kesehatan yang menyenangkan.

Monday, March 05, 2007

Sudah (atau Baru?) 6 Bulan

Hari ini, tepat sudah (atau baru?) enam bulan aku menginjakkan kaki di Taiwan. Enam bulan pula masa aku tak berjumpa dengan keluarga. Waktu berjalan terasa saaaangat lambat. Kala aku berangkat, Hanan, anakku yang pertama, masih belum bisa baca-tulis. Terakhir aku meneleponnya, dia bilang sudah sudah pintar membaca dan menulis. Bahkan ia telah bisa bertukar sms denganku. Dengan gaya manja ia pernah berkata, "Bapak, Hanan menulis surat buat Bapak, bunyinya "Bapak, kapan Bapak pulang? Hanan sudah kangen...."

Adiknya, Maysa, kala kutinggal pergi baru bisa memanggil "Bapak". Kini, setiap telepon, banyak sekali kata yang keluar dari mulutnya. Bahkan, istriku bercerita, kalau sedang marah acapkali dia berbicara nyerocos tanpa jeda, gabungan antara bahasa Indonesia dengan "bahasa planet". Beberapa lagu juga sering dinyanyikannya melalui telepon. Apalagi kini ada adik mereka, Ayham. Istriku sering bercerita bagaimana tingkah polahnya kala sedang menyusui, dimandikan, atau bermain dengan kakak-kakaknya. Sedih sekali rasanya, melewatkan banyak sekali perkembangan anak-anak.

Sunday, March 04, 2007

Living in the Dorm (2)

Meski penghuni Sheng-Li Dorm No. 6 terdiri atas banyak mahasiswa Internasional maupun lokal, interaksi antar mereka sedikit sekali terjadi. Jangankan antar penghuni asrama, pertemuan antar penghuni kamar pun seringkali merupakan hal yang istimewa. Kamar tepat di depan kamarku, misalnya, resminya dihuni dua orang, seorang mahasiswa Ph.D. dari Vietnam dan seorang mahasiswa master dari Indonesia. Menurut pengamatanku dan pengakuan mereka sendiri, karena jadwal (baca: siklus hidup) yang berlainan, mereka berdua hampir tidak pernah bisa berbincang satu sama lain (sekarang sang mahasiswa Indonesia tinggal di apartemen).

Interaksi antara mahasiswa Internasional dengan mahasiswa lokal biasanya hanya terjadi di "ruang bersama", yakni koridor di lantai dua, tempat kami menonton televisi. Namun, pertemuan itu pun acapkali dalam diam, karena mahasiswa Taiwan tampaknya "too shy to speak English", sementara mahasiswa Internasional pun tampaknya "too shy to speak chinese." Jadilah, yang mahasiswa lokal tidak bertambah kemampuan bahasa Inggrisnya, yang mahasiswa Internasional pun tidak bertambah kemampuan bahasa mandarinnya. Dari dulu, bisanya cuma "ni hao" atau "xie xie".....