Sunday, January 27, 2008

In Memoriam Pak Harto

Pagi itu, sebagaimana telah disepakati, kami berkumpul di Jalan Diponegoro, dekat Bioskop Mega21. Demi kepraktisan, kami berlima kemudian hanya menggunakan satu mobil seorang kawan. Mobil kemudian meluncur menuju Jalan Cendana yang bukan dari arah Taman Suropati, yang memang selalu gaduh dengan para mahasiswa yang menuntut mantan Presiden Soeharto segera diadili (waduh sudah lama, saya nggak hafal lagi nama-nama jalannya). Jalan Cendana sendiri tampak lengang. Kami mengamati, ada banyak intel sedang bertugas di beberapa bagian jalan. Di ujung jalan, seorang tentara memberhentikan kami. Tampaknya, kedatangan rombongan kami telah dikomunikasikan, karena ia sepertinya telah mengetahui rencana kedatangan kami.

Menjelang sampai tujuan, tentara yang lain lagi memberhentikan kami. Setelah mengetahui identitas kami, ia segera mempersilakan kami untuk menuju rumah bernomor 8, kediaman Pak Harto. Meski tak lagi menjadi presiden, kami tetap harus menjalani prosedur resmi, termasuk pemeriksaan melalui metal detector. Kemudian kami dipersilakan menanti di ruang tunggu. Tak lama kemudian, kami pun berjumpa (kembali) dengan sosok yang menjadi penguasa Indonesia selama 32 tahun.

Memang, pertemuan itu berlangsung hanya beberapa hari setelah kami juga turut "menduduki" gedung DPR/MPR yang berujung pada lengsernya Pak Harto. Sejak saat itu, di mana-mana orang, terutama mahasiswa, menuntut agar ia segera diadili. Karena itu, tidaklah mengherankan bila pada awal pertemuan beliau bertanya, "Kalian menemui saya, apa tidak takut pada para mahasiswa lain yang menuntut saya diadili?" Menemui Soeharto pada saat semacam itu memang bukan sebuah pilihan yang populer, bila tak bisa disebut tindakan yang berani. Namun kami percaya dengan kebenaran petuah untuk menemani raja yang jatuh.

Perbincangan kami dengan beliau berlangsung dengan santai dan akrab. Namun, sayangnya, meski kami telah berusaha sedemikian rupa agar beliau percaya dan terbuka dengan kami, namun kami merasakan beliau masih banyak mengemukakan jawaban-jawaban yang terkesan normatif. Ah, tak terasa waktu menunjukkan saatnya kami harus menunaikan sembahyang Jumat. Sebelumnya, kami berlima dengan jaket kuning pun berfoto bersama dengan beliau. Beliau pun mengundang kami untuk menunaikan sembahyang Jumat di situ. Kami yang tak menyangka dengan tawaran itu pun segera mengiyakan.

Rumah di Jalan Cendana 8 itu sebenarnya terdiri atas dua rumah yang digabung. Ibadah sembahyang Jumat diselenggarakan di sebuah ruangan yang lega dengan beragam hiasan yang indah. Yang menarik adalah adanya beragam bunga anggrek nan indah. Almarhumah Ibu Hartinah Soeharto memang penggemar bunga anggrek. Pada saat itulah kami melihat, bahwa meski tak lagi menjabat Presiden, Pak Harto tetaplah tokoh yang dihormati. Beberapa tokoh dari beragam kalangan tampak datang untuk mengikuti sembahyang Jumat di situ.

Siang ini, hampir sepuluh tahun kemudian sejak kejadian itu, sekitar pukul 13.10 WIB, Pak Harto telah meninggal dunia. Sebagai orang yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa, amatlah wajar bila berita kematiannya ditanggapi beragam. Namun, yang pasti, kematiannya mengingatkan kembali kepada kita tentang satu hal, bahwa setiap orang pasti dijemput mati. Dan tiada hal lain yang akan kita bawa serta, kecuali amal baik selama berada di dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Thursday, January 24, 2008

Show Me the Meaning of Being Lonely

Rasanya seperti dejavu. Satu persatu mahasiswa meninggalkan Tainan untuk menikmati libur musim dingin. Namun, mirip dengan yang kualami setahun lampau, aku masih harus berkutat dengan paper yang harus diserahkan sebelum semester baru dimulai. Bila tahun lalu harus menyelesaikan paper Econometrics, kali ini sebuah paper untuk mata kuliah Corporate Finance (1) serta sebuah proposal untuk riset yang diminta oleh pembimbingku.

Memang, tak seluruh mahasiswa Indonesia meninggalkan Taiwan. Mahasiswa Teknik Kimia, misalnya, sebagian besar ternyata bertahan tinggal guna menyelesaikan riset dan projek mereka. Namun, sebagian besar mahasiswa Indonesia di College of Management pulang kampung. Ada yang sekedar menemui keluarga, sebagian lain mencari data untuk menyelesaikan tesis, dan sebagian yang lain pulang untuk menuntaskan misi pribadi, seperti menikah, he..he..he..

Perginya sebagian mahasiswa Indonesia, tak pelak membuat beragam suasana berganti. Mailing list yang biasanya ramai mendadak sepi. Dormitory yang biasanya hiruk pikuk berganti senyap. Yang masih tinggal pun sibuk berkutat dengan urusannya masing-masing di dalam kamar. Dalam suasana seperti ini, rindu pada keluarga terasa semakin dalam. Sunyi pun terasa semakin sepi...

Thursday, January 17, 2008

My Nice Advisor

Pagi ini kutemui pembimbingku, Profesor Chang. Tak salah bila Becky Lee, administrative assistant di departemenku menyebutnya sebagai dosen favorit di seluruh College of Management. Orangnya ramah dan akrab dengan mahasiswa. Di tengah-tengah diskusi mengenai rencana risetku, ia menanyakan kemajuan bahasa mandarinku. "Getting better," jawabku dengan sok yakin. Kala ia menanyakan soal keluarga, kugunakan kesempatan itu untuk mendemonstrasikan kemampuan bahasa mandarinku. Dari raut wajahnya yang tersenyum-senyum simpul, kupikir ia cukup terkesan dengan mandarinku meski kental berlogatkan jawa..he..he..he..

Pada kesempatan lain, ia menanyakan tentang pekerjaanku di perguruan tinggi, sistem penjenjangan jabatan akademik, apakah penghargaan terhadap pekerjaan dosen memadai, serta apakah aku akan kembali mengajar selepas menyelesaikan studi di Taiwan. Aku juga sempat membantunya melafalkan dengan benar nama seorang mahasiswa master asal Indonesia yang juga dibimbingnya. Setelah mencoba berulang kali, akhirnya ia berhasil dan tampak puas bisa melafalkannya dengan lebih baik (memang hanya mandarin saja yang susah? he..he..he..).

Diskusi menarik terjadi kala ia bertanya soal poligami. Mengapa Islam membolehkan seorang pria berpoligami? Bukankah akan lebih mudah dan terhindar dari kerumitan bila cukup punya seorang istri dan (beberapa) pacar saja di saat yang sama? Sedapat mungkin, kujelaskan persyaratan-persyaratan untuk boleh berpoligami. Juga, betapa Islam menganggap extra-marital relationship sebagai dosa, dan bahwa pernikahan, termasuk poligami, lebih menunjukkan tanggung jawab daripada hanya memuaskan hasrat sesaat dengan siapa saja tanpa terikat.

Setelah berbincang selama sekitar 15 menit, akhirnya kami bersepakat untuk bertemu kembali satu minggu sebelum semester baru dimulai. Saat itu, aku sudah harus sudah siap dengan proposal penelitian untuk didiskusikan. Aku sungguh berlega hati, meski ia terkenal amat sibuk namun kala aku pamit ia berkata, "I think I will have enough time to take care of you."

Saturday, January 12, 2008

Pemilu Legislatif

Seperti biasa, pagi ini aku bergegas menuju ruang 62453 guna mengikuti kuliah Special Topics of Corporate Finance. Tapi, aku terperanjat kala mendapati ruangan masih terkunci, lampu gelap, dan tak satu pun mahasiswa yang tampak batang hidungnya. Minggu lalu memang tak ada kuliah karena Sang Profesor ada keperluan lain. Tetapi, saat itu ada email dari staf departemen yang memberitahukan hal tersebut. Kali ini tak ada satu email pun yang mengabarkan ditiadakannya perkuliahan. Mungkinkah telah ada pengumuman di website Universitas yang berversi Mandarin (berbeda dengan versi Inggris yang tampaknya jarang di-update, versi Mandarin hampir selalu ada tulisan baru)?
Barangkali, kuliah hari ini dibatalkan karena bertepatan dengan penyelenggaraan Pemilu Legislatif di Taiwan. Pemilu kali ini, berlainan dengan pemilu empat tahun lampau, menggunakan sistem single-member district, two-vote system, dan memperebutkan 113 kursi. Meski diikuti oleh kandidat dari banyak partai, namun hanya dua partai besar yang bersaing ketat, yakni Democratic Progressive Party (DPP) dan Chinese Nationalist Party (Kuo Min Tang-KMT). Pemilu Legislatif ini akan diikuti oleh Pemilihan Presiden secara langsung pada bulan Maret mendatang, dengan dua calon kuat yakni Frank Hsieh (DPP) dan Ma Ying Jeou (KMT).

Thursday, January 10, 2008

Selamat Tahun Baru 1429 H

Mengucapkan Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah.
Semoga tahun ini senantiasa berlimpah berkah dari Allah.
(berlainan dengan di Indonesia yang ditetapkan sebagai hari libur nasional dan diisi dengan beragam kegiatan, tahun baru hijriah tidak dikenal di Taiwan. Just another day lah...)

Sunday, December 30, 2007

Usap-Usap Sepatu

Oleh Suryaneta Masrul*

Menjaga wudhu termasuk hal sulit untuk dapat saya lakukan. Khawatir wudhu batal dan merasa lebih nyaman berwudhu setiap salat membuat saya kewalahan ketika berada di Taiwan, di mana Islam masih merupakan kata yang terdengar aneh di telinga. Tidak tersedianya tempat khusus untuk berwudhu memberikan saya kesempatan melaksanakan beberapa tuntunan fikih yang sebelumnya belum pernah saya kerjakan.

Salah satu contohnya adalah ketika mengikuti kelas bahasa Mandarin di Chinese Language Center (CLC) NCKU, yang disediakan gratis untuk mahasiswa internasional sekali seminggu selama 3 jam dari pukul 15.10-18.00 dengan istirahat 10 menit setiap jamnya. Salat ashar dan magrib terpaksa harus dikerjakan di CLC karena bila mengerjakan salat magrib di gedung Teknik Kimia tidak akan terkejar, selain waktu magrib yang singkat juga karena pukul 18.10 ada kuliah lagi di Teknik Kimia.

Berusaha untuk selalu menjaga wudhu dan tetap berwudhu ketika akan salat memberikan saya peluang untuk mengerjakan salah satu ruksah dalam fikih Islam, yaitu mengusap sepatu. Sebenarnya, mengambil wudhu di wastafel rest room biasa saya dan teman-teman muslimah lakukan di gedung Teknik Kimia. Basemen 1 yang jarang dilewati orang lalu lalang memudahkan kami untuk menutup pintu rest room dan melakukan aksi angkat kaki ke wastafel (Alhamdulillah, selama ini kami aman-aman saja melakukannya, karena seorang mahasiswi IMBA asal Indonesia pernah bercerita, bagaimana ia suatu ketika membasuh kaki di wastafel kala berwudhu, dan esok harinya terpampang sebuah pengumuman: "Dilarang Mencuci Kaki di Wastafel").

Sedangkan keadaan di CLC dengan waktu istirahat cuma 10 menit dan mobilitas orang di rest room yang cukup tinggi tidak memungkinkan saya untuk menutup pintu rest room ketika mengambil wudhu. Akhirnya setelah memikirkan cara terbaik, saya mengambil ruksah untuk mengusap sepatu ketika berwudhu. Alhasil dengan bersepatu dan menggunakan jaket sebagai alas salat saya pun menunaikan salat di ruang kelas yang kosong.

Ini menjadi salah satu bukti kalau Islam itu bukanlah agama yang mempersulit kita. Sabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih- lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.”

[~HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa’i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu~]*

*Suryaneta Masrul is a master student at Department of Chemical Engineering, NCKU, Taiwan. Some parts of this article have been edited by Ali Mutasowifin.

Monday, December 17, 2007

Surat 4 halaman

Biasanya, setiap kali aku menelepon Indonesia, anakku yang pertama, Hanan, akan perlu 10 menit sendiri untuk bercerita, dari kegiatan di sekolahnya, adik-adiknya, teman-temannya dan sebagainya. Betul-betul tanpa koma, apalagi titik. Sabtu lalu, dia bercerita kalau dia menulis empat halaman surat untukku. Memang, ia telah lancar menulis dan membaca. Setiap dua minggu sekali aku menulis kartu pos ke anak-anakku satu persatu. Tentu saja, dia lah tukang bacanya. Dan inilah surat yang dia buat untukku.