Showing posts with label Campus. Show all posts
Showing posts with label Campus. Show all posts

Friday, May 15, 2009

Because I am a Muslim ...

Waktu sudah menunjukkan setengah tujuh malam lewat beberapa menit kala aku usai menunaikan sembahyang magrib. Rasanya malas sekali untuk berangkat kuliah pengganti yang dijadwalkan pukul 19:00-21:00 malam itu. Tetapi, juga terasa tidak nyaman untuk membolos, karena sebelumnya sang dosen telah mengkonfirmasikan waktu kuliah pengganti ini kepada para mahasiswa, dan aku sudah berjanji bisa hadir. Apalagi, ia berjanji akan membelikan pizza hut sebagai makan malam untuk seluruh kelas.



Ternyata, hampir seluruh mahasiswa hadir. Dan, setelah satu jam berlalu, bu dosen pun meminta dua orang mahasiswa untuk membeli pizza, yang berjarak sekitar 10 menit dengan menggunakan skuter, termasuk beberapa kali berhenti di lampu merah. Sebelumnya, bu dosen ini bertanya macam pizza yang diinginkan para mahasiswanya. Ketika teman sebelahku menyampaikan kalau aku tak boleh memakan babi. sang dosen muda yang pernah tinggal di Inggris dan Amrik ini tampak terperanjat.

"Why?" ia bertanya. "Is it because of health reason? Tradition? or...?
"Because I am a Muslim," jawabku sambil tersenyum.
"Really?!!" ia bertanya seolah tak percaya. "So, you have to pray five times a day?" tanyanya memastikan dengan menanyakan hal yang tampaknya paling diingat tentang Islam.
"Yes," sahutku.
Kemudian kami sedikit berbincang tentang kewajiban sholat lima waktu, sebelum ia kembali mengurus pesanan pizza.

Beberapa saat kemudian, saat ia berjalan mendekati tempat dudukku, kutanyakan alasan mengapa ia tampak begitu terperanjat mengetahui aku seorang muslim. Dan jawaban yang dia kemukakan sungguh membuatku ganti terperanjat. Katanya, "I thought muslims are only those who come from middle eastern countries."

"You are absolutely wrong," sergahku. "As a matter of fact, Indonesia is the world's most populous muslim country," lanjutku sambil menerangkan keberagaman kehidupan agama di Indonesia.

Diskusi pun terputus ketika pesanan pizza datang. Hanya sayang, tak seperti bila membeli pizza di Indonesia, di sini tak ada saus pedas yang menyertai. Rasanya kurang greget deh...

Saturday, March 07, 2009

NTU Kembali Meminta Korban

Kemarin malam, lima hari setelah tewasnya David Hartono Widjaja, seorang staf School of Electrical and Electronics Engineering (EEE) Nanyang Technological University (NTU), sekolah yang sama tempat David belajar, ditemukan tewas menggantung diri di Apartemen khusus staf NTU yang ditinggalinya. Zhou Zheng, warga asal China yang tewas itu, juga lulusan School of EEE NTU, dan baru mulai bekerja tepat saat tragedi yang menimpa David terjadi.

Saat memberi keterangan tentang David, NTU menyatakan bahwa beasiswa David telah dihentikan sejak sebulan sebelumnya. NTU seolah ingin mengesankan bahwa David tidaklah cukup pintar, stres dan tertekan karena beasiswanya dihentikan. Padahal, orang tuanya mengaku bagaimana David menyampaikan persoalan diputusnya beasiswanya kepada keluarga dengan cengengesan. Menariknya, saat menyampaikan jati diri korban, NTU juga menyampaikan informasi bahwa Zhou Zheng adalah alumnus School of EEE NTU dengan 2nd Class Upper Honours. Orang yang membaca informasi ini akan bertanya-tanya, apa relevansi predikat kelulusan dengan kematian? Apakah orang yang lulus dengan First Class Honours tak mungkin bunuh diri?

Banyak orang kini percaya, there must be something wrong with NTU...

Friday, March 06, 2009

Siapa Mau Belajar di Singapura

Sejak kasus tewasnya David Hartono Widjaja, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) asal Indonesia, banyak blog dan milis memberitakan sisi-sisi lain yang tak diungkap media-media resmi. Misalnya, banyak fakta (dan opini) yang diungkap yang membuat kita layak mempertanyakan kebenaran arus utama berita selama ini yang menyebutkan David menusuk profesornya, kemudian mengiris tangannya sendiri, sebelum akhirnya terjun dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya.

Selain memaparkan fakta-fakta (dan opini) baru yang kemudian menempatkan David sebagai korban, kerasnya perjuangan para mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi Singapura juga banyak diungkap oleh para blogger dan milister. Mereka yang merupakan para pelajar pilihan, sebagian bahkan mantan partisipan olimpiade matematika, fisika dan yang sejenisnya, banyak yang diceritakan mengeluh dengan tekanan yang mereka terima selama belajar di Singapura yang seolah-olah menjadikan mereka hanya sebagai mesin penghasil paten, paper, dan luaran akademis lain sebagai imbalan atas beasiswa yang mereka terima. Beberapa di antara mereka bahkan dikabarkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya karena beratnya tekanan.


Menariknya, hanya berselang beberapa hari dari tewasnya David, Negeri Singa itu kembali diguncang oleh kematian seorang mahasiswa. Kali ini korbannya adalah Scott Jared Monat, peserta program pertukaran mahasiswa asal Amerika Serikat di National University of Singapore (NUS). Hari ini, Wu Wenjie, warga China yang menjadi mahasiswa di Singapore Institute of Materials Management ditemukan tergantung dengan kondisi tubuh sudah membusuk. Ketiga kasus kematian mahasiswa ini, bagaimanapun diyakini akan mempengaruhi persepsi orang tentang Singapura sebagai tujuan belajar.

Dari dua kali mengunjungi Singapura, memang tidak dapat diingkari kesan yang tertangkap sebagai tempat yang nyaman untuk menimba ilmu. Selain perguruan-perguruan tinggi yang berkelas dunia, juga negerinya yang bersih, rapi, teratur, dan aman. Ketika kusempatkan jalan-jalan lewat tengah malam, tak ada gangguan sedikit pun yang kualami. Namun, banyak orang menuding bahwa segala kenyamanan itu harus ditukar dengan kebebasan warganya. Memang, seperti kata orang, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau...

Tuesday, March 03, 2009

Mahasiswa Tikam Profesor

Sejak kemarin, media massa ramai memberitakan seorang mahasiswa asal Indonesia yang menikam profesornya di Nanyang Technological University, Singapura. Usai menikam, sang mahasiswa menemui ajal setelah melompat dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya. Sebulan sebelumnya, di Chuo University, Tokyo, seorang profesor juga ditikam di toilet kampusnya, sesaat sebelum memberikan kuliah. Penikamnya diduga adalah mahasiswanya sendiri.

Beragam persoalan memang acap mendera mahasiswa, mulai dari masalah studi, hubungan dengan dosen, beasiswa, atau masalah relasi pria-wanita. Beberapa di antara mereka memilih mengakhiri hidup untuk melarikan diri dari masalah. Sekitar tiga-empat bulan lampau, misalnya, seorang mahasiswa NCKU asal Myanmar tewas setelah menggantung diri di kamar asramanya yang hanya berjarak dua puluhan meter dari asrama tempatku tinggal, konon karena ada masalah dengan pacarnya.

Kisah di Departemen of Electrical Engineering NCKU lebih menyayat hati. Seorang mahasiswa PhD di sana menuturkan, gedung tempatnya kuliah telah merenggut nyawa tiga orang mahasiswa. Dua orang melompat dari lantai 12, sedangkan seorang lagi memilih menggantung diri. Malah, dia mengaku melihat sendiri korban terakhir, seorang mahasiswa program master, menjemput ajal.

Tak lama setelah kasus di Singapura mencuat, beragam milis yang kuikuti ramai membahasnya. Seorang kawan menyarankan membuat bagian khusus Bimbingan dan Konseling di PPI Tainan. Seorang senior mengimbau, siapa saja yang memiliki masalah apa saja agar terbuka dan menyampaikan kepada temannya. Seorang lagi malah menyarankan untuk menerjemahkan berita kasus NTU ini dalam bahasa Inggris dan Mandarin, kemudian mengirimkannya kepada para profesor masing-masing di Taiwan. Mungkin maksudnya, bila tak ingin menemui masalah, jangan main-main dengan mahasiswa Indonesia ya...

Saturday, February 21, 2009

English Name, Chinese Name

"What's your English name?", tanya sang dosen yang masih muda dan cantik kepada seorang mahasiswi, setelah sang mahasiswi memperkenalkan nama Mandarinnya. 
"I don't have an English name," jawab sang mahasiswi tersipu-sipu.
"Would you like to pick up one now?" tanya sang dosen, terkesan setengah mendesak.
"I have no idea," balas sang mahasiswi sedikit kebingungan.
"Okay, how about Alice? Like 'Alice in Wonderland'?" ujar sang dosen. Kami pun tersenyum-senyum menyaksikan sang mahasiswi yang (seolah) tak berdaya tiba-tiba mendapatkan sebuah nama baru, yang akan harus dipakainya setidaknya sepanjang satu semester di kelas tersebut.



Kejadian seperti di atas bukan sekali itu saja kusaksikan. Di kelas-kelas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sang dosen biasanya "memaksa" para mahasiswanya untuk menggunakan nama Inggris, alih-alih nama asli yang berbahasa Mandarin. Pada pertemuan awal satu semester lalu, misalnya, seorang kawan Taiwan memilih nama Stony setelah didesak oleh sang dosen untuk memilih sebuah "English name". Tetapi, mungkin dirasa kurang keren atau barangkali kemudian dia sadar maknanya tak cukup bagus, seminggu kemudian dia mengumumkan perubahan namanya menjadi Jeff.

Masih mending, si Jeff ini membuat pengumuman ketika mengganti namanya. Pernah, suatu hari, aku berulang kali memanggil seorang teman sekelas, "Rachel! Rachel!" Namun, sang gadis ayu itu terus saja berlalu seolah tak mendengar panggilanku. Ketika aku berhasil menghentikannya dan kutanyakan alasan ia tak berhenti, dengan santai ia menjawab, "Oh, I have changed my name. My name is Fiona now." Memang, bagi orang Taiwan, memiliki "English name" bukanlah sebuah keharusan. Mereka baru merasa perlu memiliki nama Inggris bila aktivitas mereka berhubungan dengan orang asing yang sering menemui kesulitan dalam melafalkan dengan tepat nama asli mereka yang memiliki empat nada yang berbeda. 

Bila orang Taiwan perlu "English name", orang asing yang tinggal di Taiwan juga perlu memiliki "Chinese name". Begitu datang ke bumi Formosa, setiap mahasiswa akan memperoleh "Chinese name". Ada beberapa cara memperoleh nama China tersebut. Misalnya, dipilihkan nama sesuai dengan kepribadiannya. Seorang teman cantik asal Aceh yang (mengaku) sabar dan pendiam, contohnya, mendapatkan "Chinese name" yang sesuai dengan sifatnya tersebut, meski pelafalannya amat berbeda dengan nama aslinya. Sedangkan sebagian besar yang lain biasanya memperoleh nama yang pelafalannya mirip dengan nama aslinya. Sementara, para mahasiswa keturunan Tionghoa biasanya akan menggunakan nama China sesuai dengan yang diberikan keluarganya.

Berlainan dengan orang Taiwan yang dapat dengan mudah mengganti nama Inggrisnya karena tak terkait dengan urusan administrasi kependudukan atau hukum, tidak demikian halnya dengan para pendatang. Dalam jangka waktu lima belas hari setelah datang di Taiwan, setiap pendatang wajib mengurus Alien Resident Certificate di Kantor Imigrasi. Di kartu ARC ini ada kolom yang berisikan nama China kita. Bahkan, bagi mahasiswa, nama asli bolehlah dimasukkan laci, karena segala urusan administrasi kemahasiswaan hanya mencantumkan nama China kita dalam huruf kanji. Pernah seorang mahasiswa asing yang belum hafal nama Chinanya kebingungan ketika sang dosen menunjukkan daftar mahasiswa di kelasnya sambil berujar, "What's your Chinese name? I have only Chinese names on this list." Mbulet, kan?

Thursday, November 27, 2008

Indoglish and Javaglish

Saat pertama datang ke Taiwan, selama berminggu-minggu tak mudah bagiku menangkap omongan dosen di kelas. Mungkin karena terbiasa mendengarkan bahasa Inggris yang diucapkan orang Indonesia, saat itu sungguh tak mudah memahami bahasa Inggris yang diucapkan orang Taiwan. Minggu pertama malah gelap sama sekali. Minggu kedua sudah mulai ada titik terang. Minggu ketiga sudah mulai agak banyak titik terang. Minggu keempat mulai terasa terang di mana-mana...

Cara bicara orang, memang akan sangat mempengaruhi pemahaman. Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun silam. Setelah melampaui beberapa kali saringan, termasuk dua kali ujian bahasa Inggris, akhirnya sampailah aku di tahap terakhir, yakni wawancara, untuk memperoleh British Chevening Award. Cilakanya, saat wawancara berlangsung, rasanya amat sering aku harus ngomong, "I beg your pardon?" Lha, bagaimana lagi...wong aku sungguh tak tahu, dua bule Inggris itu sedang ngomong apa jeee... 

Nah, di kampusku yang sekarang, dalam upaya menghindari matakuliah berbahasa Mandarin, semester ini aku banyak mengambil matakuliah yang ditawarkan departemen lain. Tanpa diduga, ternyata hal ini juga membuatku berkesempatan belajar ragam bahasa Inggris. 

Di sebuah kelas, sang dosen yang lulusan New York mengucap dengan fasih bahasa Inggris gaya Amerika rasa Taiwan. Yang juga menarik adalah ragam gaya tutur para mahasiswa yang berasal dari berbagai penjuru dunia seperti Jerman, Mongolia, Vietnam, dan Taiwan.  Sayang, kawan-kawan Taiwan tampak kurang pede, sehingga lebih sering berbicara dalam bahasa Mandarin.

Di kelas lainnya, sang dosen adalah bule Amerika. Mungkin karena sudah sering menyaksikan film Amerika atau ketemu orang Amerika, aku hampir tak pernah menemui kesulitan untuk menangkap setiap kata yang diucapkannya. 

Yang parah adalah sebuah kelas lain yang kuikuti, yang diajar seorang bule Australia. Butuh berminggu-minggu untuk membiasakan telinga ini dengan dialeknya yang sungguh jarang kudengar. Karena harus terus menerus konsentrasi 100 persen pada apa yang diucapkannya, tiga jam kuliahnya terasa sungguh amat melelahkan...

Sebelum pergi sekolah lagi, aku sempat mengajar di ITB yang berbahasa Inggris. Sempat minder juga karena dosen-dosen lain rata-rata bercas-cis-cus dengan logat keamerika-amerikaan. Lha, aku...jangankan berbahasa Inggris...wong berbahasa Indonesia saja, olok istriku, medhok Jawanya nggak bisa hilang jeee... Tetapi, seorang senior yang jadi pejabat di situ ngayem-ayemi (bahasa Indonesianya apa ya?) aku. Katanya, "Gaya bahasa Inggris orang Inggris dan orang Amerika saja beda. Orang India juga punya gaya sendiri--Indiglish. Saking terkenalnya gaya bahasa Inggris orang Singapura sampai diberi julukan sendiri Singlish. Jadi, jangan ragu untuk ngomong bahasa Inggris dengan gaya Indonesia --Indoglish-- atau rasa Jawa --Javaglish..."

Lho, I already bought that book!
Kok, buying again sih?
I told you many times tho?
Lha, I didn't know jeee... how iki?
Don't be like that, noo...!
Up to you lah...

Monday, November 03, 2008

Hikmah Presiden Datang

Seorang kawan yang berkantor di rektorat IPB bercerita bagaimana hari ini orang-orang sedang sibuk memperbaiki apa-apa yang rusak, mencat ulang, dan mengganti ini itu, karena Presiden SBY akan datang besok pagi untuk memberikan Orasi Ilmiah dalam rangkaian peringatan Dies Natalis IPB ke-45. Sejak lulus doktor pada 18 September 2004, ini untuk kesekian kalinya SBY mendatangi acara yang digelar IPB. Bolehlah ia dikategorikan sebagai alumnus yang baik hati dan tidak sombong.

Kesibukan untuk berbenah menjelang kedatangan Presiden mungkin muncul karena keinginan untuk memuliakan tamu. Mungkin juga karena harapan agar atasan melihat kita mampu mengemban amanah, melihat hasil kerja kita rapi jali tiada cela. 

Saya jadi ingat cerita seorang guru di masa dulu. Seseorang pimpinan sekolah di sebuah daerah merasa tak tahan dengan kondisi jalan di wilayahnya yang begitu buruknya, tak ubahnya kubangan sapi. Menduga bahwa tak ada seorang kepala daerah pun yang akan rela dianggap tak mampu memimpin, dengan cerdik ia mengirim surat kepada Presiden RI saat itu (saya lupa Soekarno atau Soeharto ya...) untuk berkunjung ke sekolahnya meresmikan apaaa gitu (yang ini juga lupa), dengan tembusan kepada Gubernur dan Bupati. Simsalabim, Abrakadabra!!! Dalam sekejab, jalan yang rusak parah menjadi mulus, meski kemudian Presiden tak jadi datang.

Saya sendiri juga punya pengalaman serupa. Beberapa tahun berselang, bersama beberapa orang kawan satu sekolah, kami berniat mendirikan usaha dengan memilih bentuk koperasi. Dari sejak awal, pelayanan di Kandep dan Kanwil Koperasi memang sudah tidak beres. Dibilang kurang ini, ketika sudah dipenuhi, dibilang kurang itu. Macam-macam lah alasannya. Seorang kawan menyarankan untuk memberi uang pelicin agar urusan segera beres. Tetapi, saya yang selalu berusaha untuk tak melakukan hal-hal seperti itu menolaknya, dan mengupayakan sebuah cara lain. 

Maka, kutulislah sebuah email kepada Presiden Habibie, dengan tembusan ke Menteri Koperasi, mengeluhkan buruknya pelayanan birokrasi jajarannya. Setelah itu, email itu kucetak, kumasukkan amplop, dan kuserahkan langsung ke sekretaris Kakanwil. Simsalabim, Abrakadabra!!! Entah karena Habibie atau Menkop baca emailku, ataukah Kakanwilnya ngeper dilaporkan ke atasannya, yang jelas esok harinya ada petugas yang meneleponku, "Pak, segala izin telah selesai. Silakan diambil."

Wednesday, May 21, 2008

Ketika Mahasiswa Menguasai Gedung DPR/MPR

Hari ini, sepuluh tahun lampau, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Tentu saja, ada yang menyambutnya dengan perasaan sedih, dan ada pula yang menyambutnya dengan gembira. Tetapi, para mahasiswa yang memberi tekanan besar kepada presiden Indonesia selama 32 tahun itu, pastilah menyambutnya dengan suka cita. 

Benar, kejatuhan Soeharto memang tak dapat dilepaskan dari peran mahasiswa. Berawal dari keputusan MPR yang dengan segala alasan yang tak dapat diterima nalar, mengabaikan perasaan jenuh dan muak rakyat, mengangkat kembali Soeharto sebagai presiden untuk yang kesekian kalinya. Perasaan marah tak dapat lagi dibendung kala Presiden kemudian mengangkat keluarga dan kroni-kroni dalam Kabinetnya.



Tertembaknya empat mahasiswa Universitas Trisakti membuat demonstrasi menentang Soeharto menjadi semakin eskalatif. Hingga kemudian polisi yang menjaga gerbang Gedung DPR/MPR di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, tak mampu menahan ribuan mahasiswa yang berhasrat masuk ke markas mereka yang menyebut diri sebagai wakil rakyat itu. Sejak saat itulah, para anggota DPR/MPR terusir dari kantornya, digantikan oleh para mahasiswa dari seluruh pelosok, terutama dari wilayah Jabodetabek.

Tentu saja, saya bagian dari puluhan ribu mahasiswa itu. Hanya saja, bedanya, bila mereka "hobi" jalan kaki dari Kampus UI Salemba, misalnya, saya lebih memilih naik taksi. Bila mereka memilih untuk menginap di Gedung DPR/MPR, saya memilih untuk pulang. Pokoknya, saya bagian kelompok mahasiswa yang nggak mau capek dan menderita deh, he..he..he..


Bisa dibayangkan, puluhan ribu mahasiswa tumplek blek di kompleks Gedung DPR/MPR yang sudah ditinggalkan pergi oleh para penghuni resminya. Di halaman, mobil box datang dan pergi membawa nasi bungkus, makanan kaleng, dan minuman dalam kemasan. Kumuh, hiruk pikuk, berantakan, dan kacau balau, itulah istilah-istilah yang tepat menggambarkan suasana saat itu. Setiap mahasiswa (merasa) berhak memeriksa keaslian status mahasiswa lainnya. Bak polisi, mereka memeriksa kartu mahasiswa sesiapa saja yang dicurigai. 

Karena hujan acap turun dan lantai tak pernah disapu apalagi dipel, bisa dibayangkan rupa lantai gedung wakil rakyat yang biasanya selalu kinclong. Mahasiswa maupun mahasiswi pun menguasai ruangan-ruangan kerja para anggota DPR/MPR. Pendek kata, mereka pindah kamar kos lah. Saya, yang beberapa kali mengunjungi gedung di bilangan Senayan itu saat normal, membandingkan kondisinya dengan saat itu sebagai : siang dan malam. 

Tuesday, May 13, 2008

Kerusuhan Mei, Sepuluh Tahun Lalu

Tepat di seberang Kampus UI Salemba berdiri megah showroom mobil Honda. Kulihat orang-orang berlarian memasuki gerai mobil itu. Dengan wajah beringas penuh kepuasan, orang-orang membawa keluar barang-barang seperti komputer, kursi, dan sejenisnya. Sebagian yang sudah berada di lantai atas membuang begitu saja beragam barang yang ada ke arah jalan Salemba. Barang-barang itu pun kemudian menjadi mangsa api di tengah jalan. Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang, menyemut di depan kampus UI pada petang tanggal 13 Mei itu, tepat sepuluh tahun lalu.

Hari itu, sehari setelah terbunuhnya empat mahasiswa Universitas Trisakti, kerusuhan merebak di segenap penjuru Ibukota. Asap hitam pun membumbung tinggi di seantero kota. Sementara jalan-jalan menjadi sepi dari lalu-lalang kendaraan, baik pribadi maupun umum. Tak ada yang berani mengambil risiko dengan melintasi gerombolan massa yang sedang kalap. Pilihan bagi para mahasiswa yang saat itu sedang kuliah di Kampus Salemba hanya tersisa dua: pulang berjalan kaki atau menginap di Kampus. Sepanjang yang kuketahui, tak ada yang berani mengambil pilihan pertama.

Jadilah malam itu jalan Salemba hiruk pikuk oleh massa, dan Kampus UI Salemba hiruk pikuk oleh mahasiswa yang (terpaksa) menginap. Untunglah, gedung Magister Akuntansi, tempatku sekolah, memang didesain untuk memberikan kenyamanan (belajar). Malam itu, seluruh sofa pun beralih fungsi menjadi tempat tidur. Tidak seperti hari biasanya, Kampus UI Salemba malam itu juga bersih dari pedagang makanan. Alhasil, malam itu, hanya mie instan yang menjadi pengganjal perut.



Esok harinya, dua orang kawan menjemput dengan sebuah kijang tua. Bertiga, kami melihat kerusakan di seluruh penjuru kota. Hari itu, seluruh jalan tol tiada berpenjaga. Terlihat beberapa anak bermain di tengah jalan. Bekas kerusuhan masih terlihat dari toko-toko yang menghitam berjelaga, serta sisa-sisa bekas bakaran di tengah jalan. Meski konsentrasi massa masih terlihat di beberapa bagian kota, kami tak khawatir. 

Kerusuhan (tampaknya) juga dipicu oleh ketimpangan yang selama itu mereka rasakan. Buktinya, tak ada gangguan sedikit pun ketika kami keliling kota dengan sebuah kijang tua. Hingga suatu saat kami berhenti di daerah Cawang, di mana di seberang jalan terlihat kerumunan massa menguasai jalan. Terlihat olehku, dua orang dewasa dalam sebuah sedan melaju dari arah Pancoran menuju kerumunan massa. Sang pengemudi tampak ragu-ragu bagaimana harus bersikap. Massa yang kalap tak memberi kesempatan dan ampunan. Tak jelas apa yang diayunkan, tetapi kaca mobil terlihat pecah dan sang pengemudi pun terkulai. Dengan kemudi yang diambil alih kawan sebelah, mobil BMW itu kemudian melaju kencang dengan beberapa kali menabrak besi pembatas jalan.

Tak puas hanya melihat dari atas kendaraan, berjalan kaki aku menyusuri sepanjang jalan Otista. Terlihat jelas kerusakan yang ditimbulkan dari kerusuhan. Setelah sempat menghilang, saat itu baru kulihat aparat keamanan dari Korps Marinir menyusuri jalan. Sorenya, meski suasana masih mencekam, kehidupan mulai berdenyut kembali. Pedagang makanan keliling mulai terlihat menyusuri jalanan Ibukota. Seorang pedagang makanan dengan gerobak dorong bercerita dengan bangga hasil jarahannya kemarin. "Besok saya akan menjarah lagi," tekadnya mantap. 

Monday, May 12, 2008

Hari Ini, Sepuluh Tahun Lampau

Empat syuhada berangkat pada suatu malam, 
gerimis air mata tertahan di hari keesokan, 
telinga kami lekapkan ke tanah kuburan, dan simaklah itu sedu sedan,
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, 
mengukir reformasi karena jemu deformasi, 
dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu,
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad 21,
Tapi malaikat telah mencatat prestasi kalian tertinggi di Trisakti, bahkan seluruh negeri, 
karena kalian berani mengukir alfabet pertama 
dari kata Reformasi Damai dengan darah arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, menunduk di bawah garang matahari, 
tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama 
dan kalian pahlawan bersih dari dendam, 
karena jalan masih jauh dan kita memerlukan peta dari Tuhan

(Taufiq Ismail, 13 Mei 1998)