Monday, November 03, 2008

Hikmah Presiden Datang

Seorang kawan yang berkantor di rektorat IPB bercerita bagaimana hari ini orang-orang sedang sibuk memperbaiki apa-apa yang rusak, mencat ulang, dan mengganti ini itu, karena Presiden SBY akan datang besok pagi untuk memberikan Orasi Ilmiah dalam rangkaian peringatan Dies Natalis IPB ke-45. Sejak lulus doktor pada 18 September 2004, ini untuk kesekian kalinya SBY mendatangi acara yang digelar IPB. Bolehlah ia dikategorikan sebagai alumnus yang baik hati dan tidak sombong.

Kesibukan untuk berbenah menjelang kedatangan Presiden mungkin muncul karena keinginan untuk memuliakan tamu. Mungkin juga karena harapan agar atasan melihat kita mampu mengemban amanah, melihat hasil kerja kita rapi jali tiada cela. 

Saya jadi ingat cerita seorang guru di masa dulu. Seseorang pimpinan sekolah di sebuah daerah merasa tak tahan dengan kondisi jalan di wilayahnya yang begitu buruknya, tak ubahnya kubangan sapi. Menduga bahwa tak ada seorang kepala daerah pun yang akan rela dianggap tak mampu memimpin, dengan cerdik ia mengirim surat kepada Presiden RI saat itu (saya lupa Soekarno atau Soeharto ya...) untuk berkunjung ke sekolahnya meresmikan apaaa gitu (yang ini juga lupa), dengan tembusan kepada Gubernur dan Bupati. Simsalabim, Abrakadabra!!! Dalam sekejab, jalan yang rusak parah menjadi mulus, meski kemudian Presiden tak jadi datang.

Saya sendiri juga punya pengalaman serupa. Beberapa tahun berselang, bersama beberapa orang kawan satu sekolah, kami berniat mendirikan usaha dengan memilih bentuk koperasi. Dari sejak awal, pelayanan di Kandep dan Kanwil Koperasi memang sudah tidak beres. Dibilang kurang ini, ketika sudah dipenuhi, dibilang kurang itu. Macam-macam lah alasannya. Seorang kawan menyarankan untuk memberi uang pelicin agar urusan segera beres. Tetapi, saya yang selalu berusaha untuk tak melakukan hal-hal seperti itu menolaknya, dan mengupayakan sebuah cara lain. 

Maka, kutulislah sebuah email kepada Presiden Habibie, dengan tembusan ke Menteri Koperasi, mengeluhkan buruknya pelayanan birokrasi jajarannya. Setelah itu, email itu kucetak, kumasukkan amplop, dan kuserahkan langsung ke sekretaris Kakanwil. Simsalabim, Abrakadabra!!! Entah karena Habibie atau Menkop baca emailku, ataukah Kakanwilnya ngeper dilaporkan ke atasannya, yang jelas esok harinya ada petugas yang meneleponku, "Pak, segala izin telah selesai. Silakan diambil."

Monday, October 13, 2008

Curiga Tidak Kaya

"Masa dengan gaji Rp 8 juta per bulan dan 40 tahun jadi hakim, cuma segini?" tanya seorang anggota Komisi III DPR RI setengah tak percaya kepada seorang ketua pangadilan tinggi dalam kesempatan fit and proper test calon hakim agung. 

Sang hakim menjawab secara normatif. "Apa yang saya sampaikan ke Komisi Yudisial adalah apa adanya, dan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang diterima KPK juga memang demikian adanya. Itu sudah dimuat dalam berita negara," tutur hakim kelahiran 1945 ini. 



Keraguan anggota DPR ini sesungguhnya mengherankan. Rumus matematika manapun, seharusnya memang tak memungkinkan seorang pegawai negeri dengan gaji Rp 8 juta sebulan untuk memiliki kekayaan yang jauh melebihi jumlah yang telah dilaporkan sang hakim. Si anggota DPR barangkali terlanjur terbiasa dengan kehidupannya atau para koleganya yang bergelimang dengan gaji bejibun dan tunjangan nan beragam. Atau dengan para pejabat mitra kerjanya, yang meski secara resmi bergaji tak tinggi, tetapi entah bagaimana caranya bisa memiliki kekayaan berlimpah. Padahal, kehidupan sebagian besar rakyat yang (katanya) diwakilinya, sesungguhnya bagaikan bumi dengan langit bila dibandingkan dengan kehidupan para mitra kerja DPR itu.

Sebenarnyalah sudah sejak lama para penggiat antikorupsi di tanah air mendesakkan pemberlakuan hukum pembuktian terbalik guna memberantas praktik korupsi. Namun, hingga kini, tuntutan itu tak pernah memperoleh sambutan positif dari para wakil rakyat. Alasannya mudah ditebak, mereka tak siap untuk menjelaskan, dari mana saja asal kekayaannya yang tiba-tiba menggunung. Beragam kasus yang saat ini membelit (bekas) anggota DPR (D) cukup memberi petunjuk, dari mana saja asal kekayaan mereka...

Friday, October 10, 2008

Krisis Keuangan Global

Beberapa minggu terakhir ini porsi pemberitaan media massa dipenuhi berita tentang krisis keuangan yang melanda dunia. Bursa saham di hampir seluruh penjuru dunia berjatuhan, menyusul krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat. Bailout senilai US $ 700 miliar di Amerika ternyata tak juga mampu meredam guncangan ekonomi dunia yang telah semakin menyatu. Tidak terkecuali Indonesia. Kepanikan (dan amat mungkin juga keserakahan) membuat Bursa Efek Indonesia terjerembab lebih dari10% dengan transaksi yang hanya Rp 900-an miliar. Kondisi ini membuat BEI terpaksa harus menutup bursa hingga tiga hari. Ancaman dan janji Pemerintah untuk menghukum anggota bursa yang melanggar peraturan, di antaranya tetap melakukan short selling padahal sudah jelas-jelas dilarang, harus sungguh-sungguh diterapkan. Ketegasan dan kesungguhan dalam penerapan hukum diharapkan dapat memberikan efek jera, sehingga harapan akan terwujudnya bursa saham yang lebih sehat nan kuat di masa depan akan semakin dimungkinkan.



Adanya beberapa kawan yang bertanya dampak guncangan industri keuangan dunia ini terhadap portofolionya, mengingatkanku kepada krisis keuangan yang melanda Indonesia sekitar sepuluh tahun lampau. Seorang senior yang bekerja di sebuah BUMN terkemuka kerap meminta nasihatku tentang pilihan investasi yang paling menguntungkan di tengah turbulensi yang melanda kawasan saat itu. Hasilnya, kala krisis telah mereda, dengan senyum mengembang ia bercerita bagaimana ia bisa menambah lagi satu rumah di sebuah kompleks perumahan mewah di Jakarta Barat/Tangerang. Dengan berkelakar aku acap menyebutnya sebagai keadilan dunia, orang yang punya uang tak punya ilmu (tentang bagaimana menginvestasikannya), orang yang punya ilmu tak punya uangnya... ha..ha..ha...

Ketika krisis ekonomi melanda dunia seperti sekarang pun, kehebohan sesungguhnya hanya milik mereka yang memiliki uang dan portofolio yang berkelindan dengan bursa saham dan ekonomi dunia. Orang-orang seperti diriku dengan portofolio biasa-biasa saja dan jumlah dana yang sama sekali tak istimewa, paling hanya bisa mengangkat tangan sembari pasrah. Apatah lagi saudara-saudara kita yang sehari-hari selalu harus berjuang amat keras hanya untuk dapat bertahan hidup. Bagi mereka, barangkali, krisis adalah makanan setiap hari...

Thursday, October 02, 2008

Beda (Takbir) Sholat

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, namun belum ada tanda-tanda imam Masjid Tainan bergabung dengan para jemaah. Sudah hampir satu jam kami mengumandangkan takbir, dan rasanya suara sudah hampir habis. Jemaah pun telah memadati ruangan sholat yang berukuran hanya sekitar 20 meter persegi. Menjelang pukul setengah sebelas, barulah imam yang berasal dari Myanmar ini masuk ke ruangan tempat sholat. Setelah duduk sejenak, ia berbincang dengan teman sebelahnya, yang tampaknya keturunan Pakistan.

Orang Pakistan ini kemudian berdiri, dan dengan bahasa Inggris menjelaskan kepada jemaah tata cara sholat yang akan diselenggarakan, yakni tiga takbir (tidak termasuk takbiratul ihram) sebelum Al-Fatihah di rakaat pertama, dan tiga takbir sebelum ruku di rakaat kedua. Seorang kawan berkebangsaan Yordania yang duduk di sebelahku tampak ngedumel begitu mendengar penjelasan tersebut, dan berulang-ulang menyalahkan tata cara sholat yang telah diumumkan. Namun, omelannya berhenti menyusul takbiratul ihram yang dilakukan imam, menandai diawalinya sholat idul fitri.



Meski ini adalah idul fitriku yang ketiga di Taiwan, ternyata tak mudah bagiku mengubah kebiasaan. Seusai imam membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya di rakaat kedua, begitu kudengar ucapan "Allahu Akbar" segera kubungkukkan badan melakukan ruku. Aha, salah !! Itu adalah perintah untuk tiga takbir pada rakaat kedua. Pada ucapan "Allahu Akbar" keempatlah jemaah baru mulai ruku. Kurasakan, tak hanya aku yang melakukan kekeliruan itu... :D

Usai sholat idul fitri, kami turun ke lantai dua. Setelah menunggu sekitar 10 menit, seorang jemaah datang dengan membawa puluhan nasi kotak. Hal ini merupakan "kemunduran" karena tahun sebelumnya makanan selalu disajikan dengan prasmanan. Mungkin pengurus masjid telah belajar, betapa penyajian makanan secara prasmanan telah menimbulkan "kekacauan" karena jemaah saling berebut dan karenanya makanan tak terdistribusikan secara merata... :D

Tuesday, September 30, 2008

Beda Lebaran

Di Indonesia, ada  jemaah yang merayakan lebaran di hari Senin, ada yang di hari Selasa, dan ada pula yang berlebaran di hari Rabu. Meski ini adalah kenyataan yang tak diharapkan, namun bila mengingat bahwa Indonesia adalah negeri muslim terbesar di dunia yang tersebar di begitu amat luas wilayah, ketidakseragaman tentang sesuatu menjadi lebih mudah untuk difahami.

Namun, bila ketidakseragaman itu terjadi di Taiwan, sesungguhnyalah amat layak untuk menjadi pertanyaan. Tahun ini, insya Allah adalah lebaran ketiga yang kujalani di Taiwan. Sepanjang ingatanku, pada ketiga tahun itu selalu terdapat perbedaan penetapan hari raya. 



Berlainan dengan di Indonesia yang pemerintah selalu menyelenggarakan sidang itsbat untuk menetapkan awal dan akhir Ramadan bersama organisasi keagamaan setanah air, penetapan hari raya idul fitri maupun idul adha di Taiwan merupakan otoritas imam masjid masing-masing. Jadilah, meski luas wilayah Taiwan hanyalah 35,980 sq km (bandingkan dengan luas Indonesia yang 1,919,440 sq km) dan jumlah muslim (termasuk pendatang) hanya berbilang puluhan ribu orang saja, namun sholat idul fitri diselenggarakan berlainan hari di berbagai kota. Bahkan antara Taipei dan Chungli yang hanya sejenak perjalanan pun ternyata tak seragam dalam menetapkan hari raya. 

Selamat Idul Fitri, taqobbalallahu minna wa minkum...

Sunday, September 21, 2008

Teman Sekamarku Seorang Komunis

Waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh malam saat aku tiba di depan pintu kamarku. Lampu kamar menyala, menandakan ada seseorang di dalam kamar. Seorang lelaki berperawakan tegap, berkulit terang, mata sipit dan rambut lurus menyapa dengan senyum mengembang. Tics, begitu ia menyebutkan namanya. Ia berasal dari Vietnam dan mengambil program master di Department of Mechanical Engineering. 

Kuatur laptopku agar dapat segera menyampaikan laporan ke rumah, meski tubuh terasa remuk. Sejak sebelum subuh telah meninggalkan rumah, dan baru tiba hampir 18 jam kemudian. Untunglah, bandara Hongkong yang konon sempat ditutup hari sebelumnya, cerah di hari itu. Namun, transit yang hampir empat jam serta gerbang keberangkatan yang berpindah-pindah tak urung membuat kaki menjadi letoi tak terperi. Begitu capeknya, sehingga sempat terlelap beberapa menit menjelang pesawat mendarat di tengah guyuran hujan lebat. Sebagai apresiasi kepada pilot, sebagian penumpang bertepuk tangan begitu roda pesawat mendarat dengan selamat di landasan Bandara Kaohsiung.

Sesungguhnya, kamar ini berpenghuni tiga orang. Seorang lagi, Abraham yang orang Kanada, memilih tinggal di luar dorm, dan hanya menitipkan barang-barang miliknya saja. Sesekali ia datang bila memerlukan barang-barang tersebut. Lagipula, rasanya tak mungkin ia yang bertinggi badan lebih 2 meter tidur di dorm yang panjang tempat tidurnya hanya sekitar 175 cm. Penghuni baru, Tics, tampaknya rajin. Kaca jendela yang sudah setahun tak pernah tersentuh lap, tiba-tiba kinclong. Sampai lewat tengah malam juga masih belajar, diseling ngobrol melalui instant messenger. Tetapi, kalau sedang ngobrol, ia terdengar lebih seperti bergumam, nyaris tak terdengar. Jadilah, aku tak merasa terganggu meski ia mengobrol menjelang aku terbuai mimpi.

Seperti halnya banyak kawan yang berasal dari Vietnam, teman baruku ini juga sorang komunis. Dia tidak percaya agama pula tak percaya Tuhan. Hanya percaya pada roh leluhur. Meski tak pernah bertanya, kurasa ia merasa aneh melihatku bolak-balik jengkang-jengking ...


Thursday, July 31, 2008

Sunyi, Sendiri, dan Produktivitas

Sudah lebih dari satu bulan tidak membuat tulisan di blog. Tampaknya, sungguh ada hubungan erat antara rasa sunyi, sendiri, dan produktivitas (menulis) ...