Saturday, March 07, 2009

NTU Kembali Meminta Korban

Kemarin malam, lima hari setelah tewasnya David Hartono Widjaja, seorang staf School of Electrical and Electronics Engineering (EEE) Nanyang Technological University (NTU), sekolah yang sama tempat David belajar, ditemukan tewas menggantung diri di Apartemen khusus staf NTU yang ditinggalinya. Zhou Zheng, warga asal China yang tewas itu, juga lulusan School of EEE NTU, dan baru mulai bekerja tepat saat tragedi yang menimpa David terjadi.

Saat memberi keterangan tentang David, NTU menyatakan bahwa beasiswa David telah dihentikan sejak sebulan sebelumnya. NTU seolah ingin mengesankan bahwa David tidaklah cukup pintar, stres dan tertekan karena beasiswanya dihentikan. Padahal, orang tuanya mengaku bagaimana David menyampaikan persoalan diputusnya beasiswanya kepada keluarga dengan cengengesan. Menariknya, saat menyampaikan jati diri korban, NTU juga menyampaikan informasi bahwa Zhou Zheng adalah alumnus School of EEE NTU dengan 2nd Class Upper Honours. Orang yang membaca informasi ini akan bertanya-tanya, apa relevansi predikat kelulusan dengan kematian? Apakah orang yang lulus dengan First Class Honours tak mungkin bunuh diri?

Banyak orang kini percaya, there must be something wrong with NTU...

Friday, March 06, 2009

Siapa Mau Belajar di Singapura

Sejak kasus tewasnya David Hartono Widjaja, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) asal Indonesia, banyak blog dan milis memberitakan sisi-sisi lain yang tak diungkap media-media resmi. Misalnya, banyak fakta (dan opini) yang diungkap yang membuat kita layak mempertanyakan kebenaran arus utama berita selama ini yang menyebutkan David menusuk profesornya, kemudian mengiris tangannya sendiri, sebelum akhirnya terjun dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya.

Selain memaparkan fakta-fakta (dan opini) baru yang kemudian menempatkan David sebagai korban, kerasnya perjuangan para mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi Singapura juga banyak diungkap oleh para blogger dan milister. Mereka yang merupakan para pelajar pilihan, sebagian bahkan mantan partisipan olimpiade matematika, fisika dan yang sejenisnya, banyak yang diceritakan mengeluh dengan tekanan yang mereka terima selama belajar di Singapura yang seolah-olah menjadikan mereka hanya sebagai mesin penghasil paten, paper, dan luaran akademis lain sebagai imbalan atas beasiswa yang mereka terima. Beberapa di antara mereka bahkan dikabarkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya karena beratnya tekanan.


Menariknya, hanya berselang beberapa hari dari tewasnya David, Negeri Singa itu kembali diguncang oleh kematian seorang mahasiswa. Kali ini korbannya adalah Scott Jared Monat, peserta program pertukaran mahasiswa asal Amerika Serikat di National University of Singapore (NUS). Hari ini, Wu Wenjie, warga China yang menjadi mahasiswa di Singapore Institute of Materials Management ditemukan tergantung dengan kondisi tubuh sudah membusuk. Ketiga kasus kematian mahasiswa ini, bagaimanapun diyakini akan mempengaruhi persepsi orang tentang Singapura sebagai tujuan belajar.

Dari dua kali mengunjungi Singapura, memang tidak dapat diingkari kesan yang tertangkap sebagai tempat yang nyaman untuk menimba ilmu. Selain perguruan-perguruan tinggi yang berkelas dunia, juga negerinya yang bersih, rapi, teratur, dan aman. Ketika kusempatkan jalan-jalan lewat tengah malam, tak ada gangguan sedikit pun yang kualami. Namun, banyak orang menuding bahwa segala kenyamanan itu harus ditukar dengan kebebasan warganya. Memang, seperti kata orang, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau...

Tuesday, March 03, 2009

Mahasiswa Tikam Profesor

Sejak kemarin, media massa ramai memberitakan seorang mahasiswa asal Indonesia yang menikam profesornya di Nanyang Technological University, Singapura. Usai menikam, sang mahasiswa menemui ajal setelah melompat dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya. Sebulan sebelumnya, di Chuo University, Tokyo, seorang profesor juga ditikam di toilet kampusnya, sesaat sebelum memberikan kuliah. Penikamnya diduga adalah mahasiswanya sendiri.

Beragam persoalan memang acap mendera mahasiswa, mulai dari masalah studi, hubungan dengan dosen, beasiswa, atau masalah relasi pria-wanita. Beberapa di antara mereka memilih mengakhiri hidup untuk melarikan diri dari masalah. Sekitar tiga-empat bulan lampau, misalnya, seorang mahasiswa NCKU asal Myanmar tewas setelah menggantung diri di kamar asramanya yang hanya berjarak dua puluhan meter dari asrama tempatku tinggal, konon karena ada masalah dengan pacarnya.

Kisah di Departemen of Electrical Engineering NCKU lebih menyayat hati. Seorang mahasiswa PhD di sana menuturkan, gedung tempatnya kuliah telah merenggut nyawa tiga orang mahasiswa. Dua orang melompat dari lantai 12, sedangkan seorang lagi memilih menggantung diri. Malah, dia mengaku melihat sendiri korban terakhir, seorang mahasiswa program master, menjemput ajal.

Tak lama setelah kasus di Singapura mencuat, beragam milis yang kuikuti ramai membahasnya. Seorang kawan menyarankan membuat bagian khusus Bimbingan dan Konseling di PPI Tainan. Seorang senior mengimbau, siapa saja yang memiliki masalah apa saja agar terbuka dan menyampaikan kepada temannya. Seorang lagi malah menyarankan untuk menerjemahkan berita kasus NTU ini dalam bahasa Inggris dan Mandarin, kemudian mengirimkannya kepada para profesor masing-masing di Taiwan. Mungkin maksudnya, bila tak ingin menemui masalah, jangan main-main dengan mahasiswa Indonesia ya...

Friday, February 27, 2009

Musim Kawin

"Undangan Pernikahan", demikian subjek yang sering muncul di milis mahasiswa muslim di Taiwan selama dua bulan terakhir ini. Memang, musim libur kuliah acap dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk melangsungkan pernikahan. Pada libur musim dingin yang baru lewat, misalnya, ada empat mahasiswa yang melangsungkan pernikahan. Jumlah yang lebih kurang sama juga tercatat saat libur musim panas lalu.

Pasangan yang baru menikah ini ada yang kemudian tinggal bersama di Taiwan, ada pula yang (terpaksa) hidup terpisah, yang satu di Taiwan, sementara pasangannya tinggal di Indonesia. Jadilah, sekarang kunjungan ke tanah air tidak lagi selalu berarti riset, tetapi bisa pula untuk menengok istri (suami), menengok anak, menemani istri melahirkan, dan sejenisnya...

Saturday, February 21, 2009

English Name, Chinese Name

"What's your English name?", tanya sang dosen yang masih muda dan cantik kepada seorang mahasiswi, setelah sang mahasiswi memperkenalkan nama Mandarinnya. 
"I don't have an English name," jawab sang mahasiswi tersipu-sipu.
"Would you like to pick up one now?" tanya sang dosen, terkesan setengah mendesak.
"I have no idea," balas sang mahasiswi sedikit kebingungan.
"Okay, how about Alice? Like 'Alice in Wonderland'?" ujar sang dosen. Kami pun tersenyum-senyum menyaksikan sang mahasiswi yang (seolah) tak berdaya tiba-tiba mendapatkan sebuah nama baru, yang akan harus dipakainya setidaknya sepanjang satu semester di kelas tersebut.



Kejadian seperti di atas bukan sekali itu saja kusaksikan. Di kelas-kelas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sang dosen biasanya "memaksa" para mahasiswanya untuk menggunakan nama Inggris, alih-alih nama asli yang berbahasa Mandarin. Pada pertemuan awal satu semester lalu, misalnya, seorang kawan Taiwan memilih nama Stony setelah didesak oleh sang dosen untuk memilih sebuah "English name". Tetapi, mungkin dirasa kurang keren atau barangkali kemudian dia sadar maknanya tak cukup bagus, seminggu kemudian dia mengumumkan perubahan namanya menjadi Jeff.

Masih mending, si Jeff ini membuat pengumuman ketika mengganti namanya. Pernah, suatu hari, aku berulang kali memanggil seorang teman sekelas, "Rachel! Rachel!" Namun, sang gadis ayu itu terus saja berlalu seolah tak mendengar panggilanku. Ketika aku berhasil menghentikannya dan kutanyakan alasan ia tak berhenti, dengan santai ia menjawab, "Oh, I have changed my name. My name is Fiona now." Memang, bagi orang Taiwan, memiliki "English name" bukanlah sebuah keharusan. Mereka baru merasa perlu memiliki nama Inggris bila aktivitas mereka berhubungan dengan orang asing yang sering menemui kesulitan dalam melafalkan dengan tepat nama asli mereka yang memiliki empat nada yang berbeda. 

Bila orang Taiwan perlu "English name", orang asing yang tinggal di Taiwan juga perlu memiliki "Chinese name". Begitu datang ke bumi Formosa, setiap mahasiswa akan memperoleh "Chinese name". Ada beberapa cara memperoleh nama China tersebut. Misalnya, dipilihkan nama sesuai dengan kepribadiannya. Seorang teman cantik asal Aceh yang (mengaku) sabar dan pendiam, contohnya, mendapatkan "Chinese name" yang sesuai dengan sifatnya tersebut, meski pelafalannya amat berbeda dengan nama aslinya. Sedangkan sebagian besar yang lain biasanya memperoleh nama yang pelafalannya mirip dengan nama aslinya. Sementara, para mahasiswa keturunan Tionghoa biasanya akan menggunakan nama China sesuai dengan yang diberikan keluarganya.

Berlainan dengan orang Taiwan yang dapat dengan mudah mengganti nama Inggrisnya karena tak terkait dengan urusan administrasi kependudukan atau hukum, tidak demikian halnya dengan para pendatang. Dalam jangka waktu lima belas hari setelah datang di Taiwan, setiap pendatang wajib mengurus Alien Resident Certificate di Kantor Imigrasi. Di kartu ARC ini ada kolom yang berisikan nama China kita. Bahkan, bagi mahasiswa, nama asli bolehlah dimasukkan laci, karena segala urusan administrasi kemahasiswaan hanya mencantumkan nama China kita dalam huruf kanji. Pernah seorang mahasiswa asing yang belum hafal nama Chinanya kebingungan ketika sang dosen menunjukkan daftar mahasiswa di kelasnya sambil berujar, "What's your Chinese name? I have only Chinese names on this list." Mbulet, kan?

Thursday, December 25, 2008

Merayakan Natal di Taiwan

"Merry Christmas!" Tidak terhitung sudah berapa kali ucapan itu disampaikan kepadaku dalam beberapa hari terakhir ini. Ketua Departemen tempat aku belajar bahkan mengundangku bersama para mahasiswa Internasional lainnya untuk merayakan natal sambil makan siang. Usai makan siang pun kami masih dibekali hadiah natal nan cantik.

Sudah sejak dua minggu lalu Tainan, tempat aku tinggal, berhias diri menyambut natal. Hiasan warna-warni dipasang di mana-mana, pohon terang didirikan pula di banyak tempat. Para pelayan toko pun tak ketinggalan merias diri bak Sinterklas. Beragam acara juga digelar menyambut hari yang bahkan bukan merupakan hari libur.



Benar, natal di Taiwan lebih merupakan peristiwa budaya pop. Banyak kawan Taiwan yang juga mengakui bahwa orang Taiwan suka merayakan banyak hal, meski tak faham betul maknanya. Jadi, meskipun mereka bukanlah penganut Kristen, dengan suka hati mereka merayakan natal dan menyampaikan ucapan selamat natal kepada siapa saja, tak ubahnya seperti ucapan selamat tahun baru atau selamat ulang tahun. Karenanya, tak jarang mereka tampak terperanjat, terdiam, tak tahu harus ngomong apa, dan merasa aneh, ketika mengucapkan selamat natal padaku namun memperoleh jawaban tak lazim, "Thank you. But I am a Muslim and I do not celebrate Christmas....."

Thursday, December 11, 2008

Andai Aku Penguasa Arab Saudi

Saat ini diperkirakan sekitar tiga juta muslim dari seluruh penjuru dunia sedang menunaikan ibadah haji di Arab Saudi, dan lebih dari dua ratus ribu di antaranya berasal dari Indonesia. Karena terbatasnya jatah bagi jemaah dari Indonesia, sementara peminat berhaji selalu membludak, dibuatlah kuota per wilayah. Di beberapa wilayah tanah air, kuota ini bahkan telah penuh hingga beberapa tahun mendatang.

Mereka yang pernah berhaji kerap menyuarakan harapan untuk dapat kembali lagi ke tanah suci. Mereka beralasan, ada dorongan kuat untuk selalu dapat kembali berhaji. Itulah sebabnya, ada banyak orang yang merasa perlu lebih dari sekali ke tanah suci. Sebaliknya, ada pula orang yang meskipun kondisi keungannya memadai namun memutuskan untuk tidak berhaji. Sebagian beralasan "belum ada panggilan". Sebagian lain berpendapat bahwa dalam kondisi seperti saat ini, maka berhaji semestinyalah bukan sebuah prioritas. Berlandaskan "fiqh prioritas" mereka berkeyakinan bahwa sementara masih banyak orang yang bunuh diri karena tak mampu memanggul beban ekonomi, maka hukum pergi berhaji menjadi makruh, bahkan ada pula yang menganggap haram.

Dalam kesendirian, kutatap kalender yang dikeluarkan Masjid Kaohsiung. Menghiasi halaman terakhir kalender, terpampang foto deretan kemah para jemaah di Mina, yang terbelah di sana sini oleh jalan layang lebar dengan bus-bus yang sedang melintas. Penguasa Arab Saudi memang tampak berupaya keras menyediakan beragam fasilitas yang membuat rangkaian aktivitas berhaji menjadi jauh lebih mudah dan nyaman. 



Namun, sering aku berpikir, dengan fasilitas yang modern, mewah dan berlimpah itu tentunya tidaklah mudah bagi para jemaah haji untuk menghayati beratnya perjuangan masa lampau ketika menapak tilas dalam ritual haji. Pelaksanaan Sa'i, berlari-lari kecil antara Safa dan Marwa, misalnya, kini dilakukan pada sebuah terowongan yang amat nyaman, berpenyejuk udara, bahkan lantainya pun dirancang untuk dingin dan nyaman di kaki. Padahal, Sa'i diniatkan untuk menapak tilas perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya, Ismail. Saat itu, ia harus bolak-balik berlari di tengah terik panas matahari, di tengah tandus padang pasir antara bukit Safa dan Marwa. 

Kegiatan lainnya pun tak berbeda jauh dengan Sa'i. Fasilitas mewah dan modern telah mengubah total wajah tempat-tempat bersejarah yang menjadi landasan pelaksanaan ritual haji. Kadang aku membayangkan, andai aku penguasa Arab Saudi, akan kubuat tempat-tempat bersejarah sedekat mungkin dengan kondisinya pada masa lampau. Alih-alih membangun terowongan untuk Sa'i yang tertutup, nyaman, serta berpenyejuk udara, maka aku akan mempertahankan tanah terbuka dan berpasir antara bukit Safa dan Marwa, namun menanam beragam pohon pelindung untuk mengurangi terik sinar mentari. Aku percaya, dengan begitu, para jemaah akan dapat lebih menghayati bagaimana beratnya perjuangan Siti Hajar...