Friday, October 10, 2008

Krisis Keuangan Global

Beberapa minggu terakhir ini porsi pemberitaan media massa dipenuhi berita tentang krisis keuangan yang melanda dunia. Bursa saham di hampir seluruh penjuru dunia berjatuhan, menyusul krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat. Bailout senilai US $ 700 miliar di Amerika ternyata tak juga mampu meredam guncangan ekonomi dunia yang telah semakin menyatu. Tidak terkecuali Indonesia. Kepanikan (dan amat mungkin juga keserakahan) membuat Bursa Efek Indonesia terjerembab lebih dari10% dengan transaksi yang hanya Rp 900-an miliar. Kondisi ini membuat BEI terpaksa harus menutup bursa hingga tiga hari. Ancaman dan janji Pemerintah untuk menghukum anggota bursa yang melanggar peraturan, di antaranya tetap melakukan short selling padahal sudah jelas-jelas dilarang, harus sungguh-sungguh diterapkan. Ketegasan dan kesungguhan dalam penerapan hukum diharapkan dapat memberikan efek jera, sehingga harapan akan terwujudnya bursa saham yang lebih sehat nan kuat di masa depan akan semakin dimungkinkan.



Adanya beberapa kawan yang bertanya dampak guncangan industri keuangan dunia ini terhadap portofolionya, mengingatkanku kepada krisis keuangan yang melanda Indonesia sekitar sepuluh tahun lampau. Seorang senior yang bekerja di sebuah BUMN terkemuka kerap meminta nasihatku tentang pilihan investasi yang paling menguntungkan di tengah turbulensi yang melanda kawasan saat itu. Hasilnya, kala krisis telah mereda, dengan senyum mengembang ia bercerita bagaimana ia bisa menambah lagi satu rumah di sebuah kompleks perumahan mewah di Jakarta Barat/Tangerang. Dengan berkelakar aku acap menyebutnya sebagai keadilan dunia, orang yang punya uang tak punya ilmu (tentang bagaimana menginvestasikannya), orang yang punya ilmu tak punya uangnya... ha..ha..ha...

Ketika krisis ekonomi melanda dunia seperti sekarang pun, kehebohan sesungguhnya hanya milik mereka yang memiliki uang dan portofolio yang berkelindan dengan bursa saham dan ekonomi dunia. Orang-orang seperti diriku dengan portofolio biasa-biasa saja dan jumlah dana yang sama sekali tak istimewa, paling hanya bisa mengangkat tangan sembari pasrah. Apatah lagi saudara-saudara kita yang sehari-hari selalu harus berjuang amat keras hanya untuk dapat bertahan hidup. Bagi mereka, barangkali, krisis adalah makanan setiap hari...

No comments: