Thursday, April 09, 2009

(Terpaksa) Golput

Menurutku, ada tiga kriteria yang seharusnya dimiliki oleh setiap caleg, yakni integritas, kapabilitas, dan akseptabilitas. Integritas bermakna mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan. Mirip dengan pengertian kejujuran. Selama lima tahun masa bakti anggota DPR RI 2004-2009, kita membaca begitu banyak anggota legislatif yang terjerat beragam kasus, dari soal penyuapan, korupsi, wanita, penyalahgunaan wewenang, mangkir dari tugas, serta beragam tindakan tercela lainnya.

Kriteria kedua adalah kapabilitas, yakni kemampuan atau kecakapan dalam melaksanakan tugas. Dalam kurun lima tahun menjabat, banyak sekali anggota DPR yang tidak pernah terdengar kiprahnya, baik di ruangan maupun saat kunjungan kerja. Besar kemungkinan, mereka termasuk golongan yang sebenarnya sama sekali tak memiliki kemampuan untuk menjadi anggota legislatif. Banyak kesaksian yang menggambarkan bagaimana anggota DPR, yang barangkali ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya duduk dan tidur di ruangan, memutuskan untuk mengajukan pertanyaan dalam Rapat Kerja maupun Rapat Dengar Pendapat. Tetapi, ampuuuuuuuuunnn, pertanyaan yang diajukan itu seringkali tidak hanya sekedar tidak bermutu, namun yang lebih buruk lagi adalah pertanyaan yang diajukan "salah" dan kemudian menunjukkan kapasitas asli dirinya.

Seorang kolega pernah menceritakan pengalamannya saat berdiskusi tentang efek rumah kaca dengan para anggota DPR. Saat tiba sesi tanya jawab, seorang anggota DPR dengan gaya yakin bertanya, "Sekarang banyak gedung didirikan yang seluruhnya menggunakan kaca. Kaca-kaca ini, menurut saya adalah sumber efek rumah kaca yang harus diperhitungkan." Dan sang kolega pun hanya mampu tercenung tak percaya. Saya percaya, daftar semacam yang menunjukkan rendahnya rata-rata kapabilitas para anggota DPR akan dapat dibuat sangat panjang...

Syarat ketiga adalah akseptabilitas, yakni seberapa tinggi tingkat keberterimaan calon di masyarakat. Dari 560 anggota DPR 2004-2009, hanya ada dua orang yang perolehan suaranya melewati bilangan pembagi pemilih. Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruhnya melenggang ke Senayan meski memperoleh dukungan yang amat minim.

Saya masih ingat saat pemungutan suara seperti hari ini, lima tahun lampau, di Rawamangun, Jakarta Timur, tempat kami tinggal saat itu. Tiga orang wanita, istriku dan dua orang asisten di rumah, menunggu "fatwa" dariku tentang calon anggota legislatif (caleg) yang harus dipilih. Kami pun bersepakat untuk memilih Drajad Hari Wibowo, caleg nomor urut 1 dari Partai Amanat Nasional.

Pilihan terhadap Drajad bukanlah asal-asalan, melainkan telah melalui proses penelitian yang saksama berlandaskan ketiga kriteria di atas. Alhamdulillah, hingga sekarang ia tidak saja tetap menunjukkan kinerja yang cemerlang, namun juga tidak pernah tersangkut dalam aktivitas yang mencemarkan nama diri. Sayang, tampaknya karena ketidakmampuannya bertahan di tengah lingkungan DPR yang dirasa telah tercemar, ia memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi pada periode 2009-2014 ini.

Meski tidak mudah menemukan caleg dengan kualifikasi seperti Drajad Hari Wibowo, sebenarnya aku masih berniat menggunakan hak pilih. Melalui pendaftaran pemilih online yang ada di website KDEI, kudaftarkan namaku, kemudian ada konfirmasi: "Nama Anda telah terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara." Amanlah, pikirku. Namun, hingga Daftar Pemilih Tetap (Tambahan) disahkan pun, namaku tetap tak tercantum. Jadilah, kali ini aku (terpaksa harus) golput.

Thursday, April 02, 2009

The Other Winter Days

Heater sudah dimasukkan kotaknya kembali. Selimut sudah dicuci, dilipat, dan dimasukkan ke dalam lemari. Jaket hangat pun telah dipensiunkan. Ya, sudah hampir dua bulan Taiwan memasuki musim semi. Udara cerah, meski sesekali turun hujan disertai angin kencang. Matahari pun acap membagikan sinar hangatnya. Bunga-bunga indah bermekaran.


Namun, seminggu terakhir ini, udara dingin kembali menerpa. Bila malam tiba, rasanya tak mampu bertahan tanpa jaket hangat melekat. Meski suhu tak sampai sedingin musim dingin yang kadang mencapai 8 derajat celcius, namun beberapa hari ini suhu malam hari hingga menjelang subuh sering turun hingga 15 derajat celcius. Cukup dingin untuk membuatku kembali membuka lipatan selimut, membungkus badan dengan jaket, dan mengenakan kaos kaki saat tidur, meski masih tetap tanpa heater menemani.

Sunday, March 29, 2009

Ironi Laskar Pelangi

Tadi malam, selama sekitar dua jam, aku menyaksikan film Laskar Pelangi melalui Youtube. Sebenarnya, sudah sejak sekitar satu tahun lalu aku memiliki e-book Laskar Pelangi. Tidak berapa lama kemudian, kubeli pula edisi cetaknya. Akan tetapi, hingga sekarang keduanya belum pernah kubaca. Jadilah, semalam merupakan perjumpaan pertama dengan Laskar Pelangi.

Meskipun kisah Laskar Pelangi berlatarbelakangkan keadaan di Belitong, sebuah pulau kecil di Provinsi Bangka Belitung, pada masa 1970-an, namun sesungguhnyalah kondisi di film itu masih amat jamak dijumpai saat ini di banyak wilayah lain di Indonesia. Tak perlulah pergi jauh ke pelosok negeri bila hanya ingin menjadi saksi kondisi memprihatinkan sarana pendidikan di tanah air. Di beberapa wilayah di Jakarta pun, ibukota negeri kita, atap bocor, langit-langit menganga, atau tembok yang hampir runtuh, amat mudah ditemukan.


Di film itu juga dikisahkan tentang gaji guru, yang meski jumlahnya kecil pun, sering tertunda pembayarannya. Sekarang pun, setelah hampir 64 tahun merdeka, masih acap kita dengar berita bagaimana gaji guru di beberapa tempat yang hanya berbilang Rp 100.000 - Rp 200.000 tidak dapat diterimakan tepat waktu. Jadilah, cerita seorang guru yang setelah menunaikan tugas sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kemudian berkarya sebagai tukang ojeg atau pemulung sering kita baca di media massa.

Ironisnya, pada saat yang hampir bersamaan, kondisi yang bertolak belakang tidak jarang terjadi, yang membuat kita layak mempertanyakan kebenaran arah perjalanan kita sebagai sebuah bangsa selama ini.

Lihatlah, di saat banyak murid menyabung nyawa bersekolah di gedung yang atapnya hampir ambruk, beragam tugu peringatan miliaran rupiah didirikan. Di saat gaji guru yang hanya seratusan ribu rupiah tidak mampu dibayarkan, mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah ludes terjual. Di saat ada murid sekolah menggantung diri karena malu tak mampu membayar uang sekolah, ribuan orang antre hingga tengah malam untuk membeli sebuah iPhone seharga lebih dari sebelas juta rupiah. Dan daftar pun bisa menjadi sangat panjang. Ironi sebuah negeri yang (konon) menjadikan keadilan sosial sebagai salah satu falsafah hidupnya...

Saturday, March 07, 2009

NTU Kembali Meminta Korban

Kemarin malam, lima hari setelah tewasnya David Hartono Widjaja, seorang staf School of Electrical and Electronics Engineering (EEE) Nanyang Technological University (NTU), sekolah yang sama tempat David belajar, ditemukan tewas menggantung diri di Apartemen khusus staf NTU yang ditinggalinya. Zhou Zheng, warga asal China yang tewas itu, juga lulusan School of EEE NTU, dan baru mulai bekerja tepat saat tragedi yang menimpa David terjadi.

Saat memberi keterangan tentang David, NTU menyatakan bahwa beasiswa David telah dihentikan sejak sebulan sebelumnya. NTU seolah ingin mengesankan bahwa David tidaklah cukup pintar, stres dan tertekan karena beasiswanya dihentikan. Padahal, orang tuanya mengaku bagaimana David menyampaikan persoalan diputusnya beasiswanya kepada keluarga dengan cengengesan. Menariknya, saat menyampaikan jati diri korban, NTU juga menyampaikan informasi bahwa Zhou Zheng adalah alumnus School of EEE NTU dengan 2nd Class Upper Honours. Orang yang membaca informasi ini akan bertanya-tanya, apa relevansi predikat kelulusan dengan kematian? Apakah orang yang lulus dengan First Class Honours tak mungkin bunuh diri?

Banyak orang kini percaya, there must be something wrong with NTU...

Friday, March 06, 2009

Siapa Mau Belajar di Singapura

Sejak kasus tewasnya David Hartono Widjaja, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU) asal Indonesia, banyak blog dan milis memberitakan sisi-sisi lain yang tak diungkap media-media resmi. Misalnya, banyak fakta (dan opini) yang diungkap yang membuat kita layak mempertanyakan kebenaran arus utama berita selama ini yang menyebutkan David menusuk profesornya, kemudian mengiris tangannya sendiri, sebelum akhirnya terjun dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya.

Selain memaparkan fakta-fakta (dan opini) baru yang kemudian menempatkan David sebagai korban, kerasnya perjuangan para mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi Singapura juga banyak diungkap oleh para blogger dan milister. Mereka yang merupakan para pelajar pilihan, sebagian bahkan mantan partisipan olimpiade matematika, fisika dan yang sejenisnya, banyak yang diceritakan mengeluh dengan tekanan yang mereka terima selama belajar di Singapura yang seolah-olah menjadikan mereka hanya sebagai mesin penghasil paten, paper, dan luaran akademis lain sebagai imbalan atas beasiswa yang mereka terima. Beberapa di antara mereka bahkan dikabarkan pernah mencoba mengakhiri hidupnya karena beratnya tekanan.


Menariknya, hanya berselang beberapa hari dari tewasnya David, Negeri Singa itu kembali diguncang oleh kematian seorang mahasiswa. Kali ini korbannya adalah Scott Jared Monat, peserta program pertukaran mahasiswa asal Amerika Serikat di National University of Singapore (NUS). Hari ini, Wu Wenjie, warga China yang menjadi mahasiswa di Singapore Institute of Materials Management ditemukan tergantung dengan kondisi tubuh sudah membusuk. Ketiga kasus kematian mahasiswa ini, bagaimanapun diyakini akan mempengaruhi persepsi orang tentang Singapura sebagai tujuan belajar.

Dari dua kali mengunjungi Singapura, memang tidak dapat diingkari kesan yang tertangkap sebagai tempat yang nyaman untuk menimba ilmu. Selain perguruan-perguruan tinggi yang berkelas dunia, juga negerinya yang bersih, rapi, teratur, dan aman. Ketika kusempatkan jalan-jalan lewat tengah malam, tak ada gangguan sedikit pun yang kualami. Namun, banyak orang menuding bahwa segala kenyamanan itu harus ditukar dengan kebebasan warganya. Memang, seperti kata orang, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau...

Tuesday, March 03, 2009

Mahasiswa Tikam Profesor

Sejak kemarin, media massa ramai memberitakan seorang mahasiswa asal Indonesia yang menikam profesornya di Nanyang Technological University, Singapura. Usai menikam, sang mahasiswa menemui ajal setelah melompat dari lantai 5 sebuah gedung di kampusnya. Sebulan sebelumnya, di Chuo University, Tokyo, seorang profesor juga ditikam di toilet kampusnya, sesaat sebelum memberikan kuliah. Penikamnya diduga adalah mahasiswanya sendiri.

Beragam persoalan memang acap mendera mahasiswa, mulai dari masalah studi, hubungan dengan dosen, beasiswa, atau masalah relasi pria-wanita. Beberapa di antara mereka memilih mengakhiri hidup untuk melarikan diri dari masalah. Sekitar tiga-empat bulan lampau, misalnya, seorang mahasiswa NCKU asal Myanmar tewas setelah menggantung diri di kamar asramanya yang hanya berjarak dua puluhan meter dari asrama tempatku tinggal, konon karena ada masalah dengan pacarnya.

Kisah di Departemen of Electrical Engineering NCKU lebih menyayat hati. Seorang mahasiswa PhD di sana menuturkan, gedung tempatnya kuliah telah merenggut nyawa tiga orang mahasiswa. Dua orang melompat dari lantai 12, sedangkan seorang lagi memilih menggantung diri. Malah, dia mengaku melihat sendiri korban terakhir, seorang mahasiswa program master, menjemput ajal.

Tak lama setelah kasus di Singapura mencuat, beragam milis yang kuikuti ramai membahasnya. Seorang kawan menyarankan membuat bagian khusus Bimbingan dan Konseling di PPI Tainan. Seorang senior mengimbau, siapa saja yang memiliki masalah apa saja agar terbuka dan menyampaikan kepada temannya. Seorang lagi malah menyarankan untuk menerjemahkan berita kasus NTU ini dalam bahasa Inggris dan Mandarin, kemudian mengirimkannya kepada para profesor masing-masing di Taiwan. Mungkin maksudnya, bila tak ingin menemui masalah, jangan main-main dengan mahasiswa Indonesia ya...

Friday, February 27, 2009

Musim Kawin

"Undangan Pernikahan", demikian subjek yang sering muncul di milis mahasiswa muslim di Taiwan selama dua bulan terakhir ini. Memang, musim libur kuliah acap dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk melangsungkan pernikahan. Pada libur musim dingin yang baru lewat, misalnya, ada empat mahasiswa yang melangsungkan pernikahan. Jumlah yang lebih kurang sama juga tercatat saat libur musim panas lalu.

Pasangan yang baru menikah ini ada yang kemudian tinggal bersama di Taiwan, ada pula yang (terpaksa) hidup terpisah, yang satu di Taiwan, sementara pasangannya tinggal di Indonesia. Jadilah, sekarang kunjungan ke tanah air tidak lagi selalu berarti riset, tetapi bisa pula untuk menengok istri (suami), menengok anak, menemani istri melahirkan, dan sejenisnya...