Monday, May 21, 2007

Bertemu Presiden

Hari ini, sembilan tahun lampau, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya setelah selama sekitar 32 tahun berkuasa di Indonesia. Tidak pelak, ada perasaan bangga yang membuncah, kala saya sebagai mahasiswa S1 dulu berkesempatan bertemu dengan "raja" negeri ini, yang dikenal sebagai "The Smiling General". Sebagai pegiat organisasi kemahasiswaan, kesempatan bertemu dengan Presiden Indonesia terlama ini pun sempat kualami beberapa kali, namun perasaan bangga itu masih juga hinggap setiap kali bertemu.

Beberapa hari setelah ikut "menduduki" gedung DPR yang berujung kejatuhan Presiden Soeharto, saya mengikuti petuah untuk "menemani raja yang jatuh". Bersama beberapa kawan mahasiswa Pascasarjana UI, kami bersilaturahim dengan Pak Harto di jalan Cendana, saat banyak mahasiswa di ujung jalan masih bersitegang dengan polisi, menuntut penggantungan Pak Harto. Bahkan, kala itu pun, masih ada juga perasaan bangga bersemayam di dada ini.



Namun, perasaan bangga yang serupa tak muncul kala kemarin kami berjumpa dengan seorang presiden yang lain, Presiden Formmit (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan). Ketika kami, mahasiswa muslim NCKU dikunjungi oleh Cak Hendro Nurhadi beserta anggota kabinet, Cak Agus Setyo Muntohar dan Cak Budi Suswanto, yang muncul adalah perasaan bahagia. Guyonan segar dan cerdas yang mewarnai perbincangan kami selama di Shengli Dorm No.6 maupun di Masjid Tainan, meski hanya seorang TKI yang berhasrat hadir di tengah hujan deras yang mengguyur, menunjukkan mereka bertiga sebagai pemimpin harapan.


Dalam konteks nasional, saya membayangkan, kita memiliki pemimpin-pemimpin seperti mereka, yang tak hanya nongkrong di Istana, namun rajin datang mengunjungi rakyatnya. Saya membayangkan, kita memiliki pemimpin seperti Umar bin Khatab, yang rajin melihat kondisi nyata rakyatnya dengan kunjungan tanpa nama, tanpa upacara. Saya membayangkan, kita memiliki pemimpin yang akan mampu membuat rakyat yang ditemuinya tidak memiliki kebanggan yang sifatnya lebih personal, namun memiliki kebahagiaan yang sifatnya lebih sosial, yang akan mampu mendorong perasaan bermakna, berharga, dan bertenaga untuk berbuat bagi sesama. Xie xie ni, Hendro Xiansheng, Agus Xiansheng, Budi Xiansheng.